Ilmuwan Temukan Lokasi Tanpa Kehidupan Sama Sekali di Bumi

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kolam  dengan kadar asam dan garam sangat tinggi, dan panas geothermal di Dallol (Ethiopia). Meskipun ada air, sistem multi-ekstrim ini tidak memungkinkan perkembangan kehidupan, menurut sebuah studi baru. Warna kuning kehijauan disebabkan oleh berkurangnya besi.(Dok.Puri Lpez-Garca/CNRS)

    Kolam dengan kadar asam dan garam sangat tinggi, dan panas geothermal di Dallol (Ethiopia). Meskipun ada air, sistem multi-ekstrim ini tidak memungkinkan perkembangan kehidupan, menurut sebuah studi baru. Warna kuning kehijauan disebabkan oleh berkurangnya besi.(Dok.Puri Lpez-Garca/CNRS)

    TEMPO.CO, Jakarta- Sebuah studi baru oleh tim ilmuwan Prancis-Spanyol yang dipimpin oleh ahli biologi Purificación Lopez Garcia dari Pusat Penelitian Ilmiah Prancis (CNRS) menunjukkan bahwa di muka Bumi ini ada satu tempat tanpa kehidupan sama sekali. Lokasi tersebut adalah danau Dallol di Ethiopia.

    Kolam Dallol berada di sebuah perkampungan bernama Dallol di Ethiopia utara. Desa ini memiliki ketinggian sekitar 130 meter di bawah permukaan laut. Dallol saat ini memegang rekor resmi sebagai tempat dengan suhu rata-rata tertinggi untuk lokasi yang dihuni di Bumi, yaitu suhu tahunan rata-rata 35 ° C tercatat antara tahun 1960 dan 1966. Dallol juga merupakan salah satu tempat paling terpencil di Bumi. Di wilayah ini ada sistem hidrotermal Dallol yang sangat aktif dengan banyak mata air.

    "Setelah menganalisis lebih banyak sampel dibandingkan karya sebelumnya, dengan kontrol yang memadai agar tidak mencemari mereka dan metodologi yang terkalibrasi baik, kami memverifikasi bahwa tidak ada kehidupan mikroba di danau asin ini atau di danau air garam kaya magnesium yang berdekatan," ujar Garcia, dikutip Tech Explorer, baru-baru ini.

    Menurut penelitian, mikroorganisme tertentu dapat berkembang di lingkungan yang sangat ekstrem. Studi ini mengarahkan peneliti untuk menghadirkan tempat ini sebagai contoh batas yang dapat didukung kehidupan, dan bahkan untuk mengusulkannya sebagai analog terestrial Mars purba.

    Hasil penelitian dikonfirmasi menggunakan metode berbeda seperti pengurutan besar penanda genetik untuk mendeteksi dan mengklasifikasikan mikroorganisme, upaya kultur mikroba, sitometri aliran fluoresen identifikasi sel-sel individual, analisis kimia air asin dan pemindaian mikroskop elektron dikombinasikan spektroskopi sinar-X.

    "Apa yang ada adalah keragaman besar archaea halophilic (sejenis mikroorganisme pencinta garam primitif) di padang pasir dan ngarai saline di sekitar situs hidrotermal," tutur Garcia. "Tetapi tidak ada yang ditemukan di kolam dengan kadar garam dan asam yang sangat tinggi ini, juga yang disebut danau Hitam dan Kuning Dallol, tempat magnesium berlimpah."

    Para ilmuwan khusus menemukan dua hambatan fisik-kimia yang mencegah keberadaan organisme hidup di kolam. Yaitu berlimpahnya garam magnesium chaotropic (agen pemecah jembatan hidrogen dan mendenaturasi biomolekul) dan pertemuan simultan dari kondisi kadar garam dan asam sangat tinggi, serta suhu tinggi.

    Studi membantu membatasi batasan kelayak-hunian dan menuntut kehati-hatian ketika menafsirkan tanda morfologis di Bumi dan sekitarnya.  Sementara itu, seseorang seharusnya tidak mengandalkan aspek seluler atau biologis dari suatu struktur, karena dapat memiliki asal abiotik.

    Garcia memperingatkan bahwa beberapa endapan mineral Dallol yang kaya silika mungkin terlihat seperti sel mikroba di bawah mikroskop, jadi apa yang terlihat harus dianalisis dengan baik.

    "Dalam penelitian lain, terlepas dari kemungkinan kontaminasi sampel dengan archaea dari tanah yang berdekatan, partikel-partikel mineral ini mungkin telah ditafsirkan sebagai sel-sel fosil, ketika pada kenyataannya terbentuk secara spontan dalam air asin walaupun tidak ada kehidupan," tutur Garcia.

    Studi ini juga menyajikan bukti bahwa ada tempat di permukaan Bumi, seperti kolam Dallol, yang steril meskipun mengandung air. Sementara itu, keberadaan air di sebuah planet, yang sering digunakan sebagai kriteria kelayakhunian, tidak berarti bahwa ia memiliki kehidupan.

    "Kami tidak akan berharap menemukan bentuk kehidupan di lingkungan yang sama di planet lain, setidaknya tidak didasarkan pada biokimia yang mirip dengan biokimia terestrial," kata Garcia

    NATURE ECOLOGY & EVOLUTION | TECH EXPLORIST


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.