Gajah Rusak 14 Rumah di Bener Meriah, Warga Mengusir Pakai Mercon

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kondisi salah satu rumah warga yang dirusak kawanan gajah liar di Dusun Sejahtera, Kampung Rime Raya Kabupaten Bener Meriah, 25 November 2019. (ANTARA/Kurnia Muhadi)

    Kondisi salah satu rumah warga yang dirusak kawanan gajah liar di Dusun Sejahtera, Kampung Rime Raya Kabupaten Bener Meriah, 25 November 2019. (ANTARA/Kurnia Muhadi)

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebanyak 14 rumah warga di Desa  Rime Raya, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh dirusak kawanan gajah liar sepanjang dua pekan terakhir.

    Reje (kepada desa) Kampung Rime Raya, Muklis, mengatakan kawanan gajah liar tersebut terus mendatangi pemukiman penduduk sejak dua pekan terakhir dan merusak rumah warga desa.

    "Itu total rumah warga yang didatangi dan dirusak oleh gajah liar baru-baru ini. Kebanyakan hanya rusak ringan, kalau rusak berat ada empat unit rumah," katanya di Bener Meriah, Senin, 25 November 2019.

    Dia menjelaskan warga selama ini hanya bisa mengantisipasi serangan gajah liar tersebut dengan menyalakan petasan pada saat satwa dilindungi tersebut mulai mendekati rumah-rumah penduduk, meskipun kadang-kadang mereka kehabisan petasan tersebut.

    "Warga di sini jaga malam. Jadi kami secara bergantian melakukan ronda tiap malam untuk mengantisipasi kedatangan gajah di kampung kami. Cuma kadang kami kehabisan mercon," katanya.

    Ia juga menyebutkan kawanan gajah selain merusak rumah warga juga ikut memporak-porandakan tanaman di kebun milik warga. Karena itu masyarakat meminta solusi terbaik pemerintah dalam penanganan konflik gajah yang terus terjadi saban tahun.

    "Kalau lahan warga kita hitung sejak bertahun-tahun sudah ratusan hektar dirusak. Karena gajah setiap tahun pasti datang," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.