Tempo dan LIPI Kerja Sama Kembangkan Konten Sains

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama PT Tempo Inti Media Toriq Hadad dan Kepala LIPI Laksana Tri Handoko menandatangani kerjasama untuk mengembangkan konten sains dan pengelolaan informasi.di Kantor Tempo, Jakarta, Kamis, 28 November 2019. TEMPO/Khory

    Direktur Utama PT Tempo Inti Media Toriq Hadad dan Kepala LIPI Laksana Tri Handoko menandatangani kerjasama untuk mengembangkan konten sains dan pengelolaan informasi.di Kantor Tempo, Jakarta, Kamis, 28 November 2019. TEMPO/Khory

    TEMPO.CO, Jakarta - Tempo Media Group dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI menandatangi nota kesepahaman untuk mengembangkan konten sains dan pengelolaan informasi.

    Penandatanganan dilakukan oleh Kepala LIPI Laksana Tri Handoko dan Direktur Utama PT Tempo Inti Media Toriq Hadad di Gedung Tempo, Jakarta, Kamis, 28 November 2019.

    Toriq mengatakan, Tempo dan LIPI merupakan organisasi yang saling beriringan. "Artinya sejenis karena LIPI mengumpulkan hasil riset, kemudian dari hasil riset itu sekarang ini LIPI mulai membuat inovasi untuk penyebarannya. Nah dalam penyebarannya inilah Tempo berperan," ujar Toriq.

    Tempo Media Group saat ini memiliki beberapa anak usaha, salah satunya Info Media Digital yang bergerak di bisnis media online dan digital, dengan situs utamanya tempo.co. Saat ini, Info Media Digital sedang mengembangkan media berbagai platform, termasuk video, dengan mengakuisisi PT Rombak Pola Pikir (RPP).

    Tariq mengatakan, Tempo sebagai media yang mempunyai kemampuan menyebarkan ide gagasan dan bekerja sama dengan LIPI yang mempunyai konten berupa hasil riset data, cocok jika berkolaborasi. "Jadi itu payungnya, nanti payung itu akan diisi dengan program-program, jadi sambil jalan sambil kita lihat apa saja yang bisa disinergikan dengan LIPI," kata Toriq.

    Tariq menggarisbawahi bahwa LIPI merupakan lembaga yang dari dulu dikenal sangat menjaga kredibilitasnya. Hal itu yang membuat Tempo tertarik untuk bersama saling sharing dan mengambil manfaat terutama dalam masa transisi dari organisasi konvensional menuju ke teknologi informasi atau industri 4.0.

    "Jadi didasari kepentingan yang sama. Ini kerja sama secara keseluruhan dengan Tempo Media Group. Sifatnya lebih terbuka masing-masing pihak dari Tempo," tutur Tariq. "Anak usaha Tempo juga mencoba melihat apa saja sih yang dimiliki LIPI, nanti mereka bikin usulan dan LIPI juga sama nanti timnya akan membuka akses."

    Selain itu, PT RPP juga memiliki kanal Kok Bisa? di YouTube yang juga membuat konten tentang sains dengan penjelasan sederhana. Saat ini, Kok Bisa? sudah memiliki 1,4 juta pelanggan. Lalu, ada portal Telesur.id dan Ziliun.com, ketiganya merupakan medium yang menyasar milenial, sehingga LIPI juga bisa mensosialisakan hasil penelitian dengan lebih sederhana.

    "Misalnya bagaimana setiap tahun LIPI punya eksplorasi, perjalanan mengeksplor tanaman di Indonesia untuk menemukan spesies baru. Nah ini kan menarik. Menariknya untuk anak usaha dari RPP ya dalam hal ini Telusur.id misalnya seperti itu. Bikin wisatanya atau perjalanan," kata Tariq.

    Kepala LIPI Laksana Tri Handoko menjelaskan bahwa kerja sama tersebut secara keseluruhan bersama Tempo Media Group. Menurutnya Tempo dan LIPI sama-sama ingin mengubah pola pengelolaan dan komunikasi konten.

    "Jadi persis sama yang Tempo lakukan, karena Tempo juga bertransformasi dan kita juga bertransformasi dari kolonial menuju milenial," ujar Handoko. "Ini kita memiliki problem dan challenge sama. Saya pikir banyak hal yang kita bisa belajar juga dari Tempo dan ternyata Tempo pun banyak yang bisa dieksplorasi dari konten-kontan kami."

    Handoko mengatakan bahwa sains yang digeluti LIPI memang sulit untuk dikomunikasikan. Dengan pola kerja sama ini, kata dia, LIPI bisa belajar dari Tempo mengenai bagaimana mengemas ulang sains tersebut. "Tempo pun punya kesempatan mengakses informasi sains terbaru, untuk kemudian bisa dikomunikasikan," kata Handoko.

    Tariq dan Handoko berharap bahwa kerja sama tersebut bisa saling menguntungkan untuk bisa mempopulerkan sains dengan cara yang lebih populer dan milenial. "Banyak hal yang akan kita kembangkan bersama tidak hanya dari sisi konten tapi juga dari sisi pengelolaan," kata Handoko.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.