BPPT: Pendayagunaan Kecerdasan Buatan Akan Mempercepat Birokrasi

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala BPPT Hammam Riza. Kredit: BPPT

    Kepala BPPT Hammam Riza. Kredit: BPPT

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza optimistis, melalui pendayagunaan kecerdasan buatan (AI) akan mempercepat birokrasi, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta cerdas dalam pengambilan keputusan. 

     "Yang perlu disiapkan adalah ekosistem AI yang didukung oleh berbagai stakeholder, lembaga litbangjirap, perguruan tinggi, badan usaha dan kemampuan atau kompetensi dari lembaga penunjang," jelas Hammam, 28 november 2019, merujuk pada penyelenggara Iptek dalam UU Sinas Iptek.

    BPPT, kata Hammam, juga tengah berfokus pada pemanfaatan AI dalam upaya mendorong Indonesia menjadi negara maju dan berdaya saing. "Saat ini BPPT juga menginisiasi dibangunnya AI Inovation Center untuk mengejar pemanfaatan AI, guna meningkatkan daya saing Indonesia," kata Hammam.

    Dalam CEO Forum yang digelar di Hotel Ritz Carlton, Jakarta Selatan, Kamis, 28 November 2019, Presiden Jokowi menegaskan bahwa pemerintah akan mengganti eselon III dan IV di K/L dengan AI atau robot.

    Hal ini dilakukan agar ke depannya, pemerintah bisa sigap dalam mengambil keputusan. "Kita lakukan pengurangan eselon, kita punya eselon I, II, III, IV. Kita akan lakukan yang III dan IV akan kita potong," kata Jokowi.

     Presiden Jokowi pun menekankan bahwa pengambilan keputusan yang cepat dalam reformasi birokrasi merupakan hal yang sangat penting bagi para pelaku usaha yang hendak berinvestasi di Indonesia. 

    "Saya sudah perintahkan juga ke Men-PANRB diganti dengan AI, kalau diganti artificial intelligence, birokrasi kita lebih cepat, saya yakin itu. Tapi sekali lagi ini juga akan tergantung omnibus law ke DPR," jelas Jokowi. Kendati dipangkas, Presiden Jokowi menjamin gaji para pejabat tersebut tidak akan berkurang sedikitpun.

    Sementara itu AI Innovation Center BPPT diyakini akan mendorong Indonesia menjadi negara yang maju dan berdaya saing di tengah era disrupsi digital dan revolusi industri 4.0 ini. BPPT juga telah mengambil peran dalam pendayagunaan AI, satu di antaranya di bidang Teknologi Modifikasi Cuaca berbasis AI. 

    Dalam proyek perdana terkait pendayagunaan AI, kata Hammam, BPPT pun bersinergi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). "Kami akan membuktikan Indonesia juga mampu mengembangkan AI. Project pertama untuk teknologi modifikasi cuaca berbasis kecerdasan buatan untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan yang setiap tahun kita hadapi. Kita sudah kerja sama dengan BMKG," tutur Hammam.

    Menurut Hammam, Indonesia saat ini memiliki potensi besar untuk bisa mendayagunakan kecerdasan buatan untuk berbagai sektor, termasuk SPBE, obat-obatan farmasi, dan telemedicine.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.