Fosil Hewan Pengerat Ditemukan, Hidup di Zaman Dinosaurus

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rekonstruksi fosil Jeholbaatar kielanae. (Kredit: XU Yong/Carnivora.net)

    Rekonstruksi fosil Jeholbaatar kielanae. (Kredit: XU Yong/Carnivora.net)

    TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti menemukan fosil hewan pengerat purba, yang diperkirakan hidup sekitar 120 juta tahun lalu. Binatang ini hidup bersama dinosaurus selama periode Kapur. Para ilmuwan mengatakan mamalia purba ini berasal dari spesies yang disebut multituberculate.

    Laman Daily Mail, Kamis, 28 November 2019, menyebutkan, mamalia tersebut memiliki berat sekitar 1,5 ons. Fosil itu terawetkan, dijuluki Jeholbaatar kielanae, dan ditemukan di Formasi Jiufotang di Provinsi Liaoning Cina.

    "Spesimen ini memberikan bukti penting mengenai evolusi telinga mamalia. Jeholbaatar menyarankan pengembangan telinga pada multituberkulum dipicu oleh persyaratan untuk makan," kata peneliti Yuanqing Wang dari Institut Paleontologi Vertebrata dan Paleoantropologi di Beijing.

    Menurut laporan yang diterbitkan di jurnal Nature, mamalia dengan alat pendengaran aneh ini, bisa memberikan wawasan tentang bagaimana indera pendengaran mamalia berevolusi dari waktu ke waktu.

    Fosil juga menunjukkan keselarasan tulang aneh di telinga makhluk itu, dengan tulang kecil yang disebut incus, terletak di belakang tulang lebih besar yang disebut malleus.

    Ilmuwan mengatakan pelurusan ini penting, karena meskipun kondusif untuk mendengar beberapa jenis suara, tapi juga membantu mencapai jenis gerakan mengunyah yang didorong preferensi jenis makanan tertentu.

    Mamalia itu memiliki gerakan menggigit vertikal, mirip seperti kucing atau menggerakkan rahang bawahnya ke samping seperti sapi. Mereka memotong dan menggiling makanan dengan menariknya mundur. Hewan itu sepertinya memakan tanaman sebagai sumber makanan pada masa pra-sejarah ketika mamalia lain memakan serangga atau vertebrata kecil.

    "Berdasarkan bentuk pipi bagian bawah, Jeholbaatar termasuk omnivora, memakan cacing, artropoda, dan tanaman. Itu sebabnya memiliki gerakan rahang yang berbeda saat mengunyah," demikian tertulis dalam penelitian.

    Temuan utama, kata peneliti, adalah jenis makanan memiliki pengaruh pada rahang dan telinga mamalia. Hubungan yang bisa membantu memberikan wawasan tentang bagaimana dan mengapa hewan mengubah alat pendengaran mereka di seluruh rantai evolusi.

    DAILY MAIL  



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.