Menristek: Jadi Peneliti Itu Tidak Boleh Egois

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menristek/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro melakukan kunjungan ke Kantor BPPT di Puspiptek Serpong, Jumat, 15 November 2019. Kredit: BPPT

    Menristek/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro melakukan kunjungan ke Kantor BPPT di Puspiptek Serpong, Jumat, 15 November 2019. Kredit: BPPT

    TEMPO.CO, Jakarta- Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro menyebutkan bahwa salah satu tugas dari BRIN adalah untuk membuat para peneliti bisa berkolaborasi. BRIN masuk dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019 tentang  Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

    “Jadi BRIN ini mempunyai tugas untuk melakukan kegiatan penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan secara terintegrasi. Nah salah satu elemen integrasi itu kerja sama tadi. Jadi peneliti itu tidak boleh egois,” kata Bambang Acara Simposium Riset-Pro di Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta Pusat, Selasa, 3 Desember 2019.

    Jadi, Bambang melanjutkan, BRIN akan melakukan perencanaan, pemrograman, penganggaran sampai monitoring, evaluasi dan sharing infrastruktur untuk semua lembaga penelitian dan pengembangan di Indonesia, baik di perguruan tinggi, kementerian ataupun lembaga penelitian lainnya.

    Menurut Bambang, dari pada setiap peneliti atau lembaga melakukan penelitian masing-masing dengan hasil yang kurang optimal lebih baik bekerja sama untuk topik yang sama. Sehingga hasilnya bisa menjadi jelas  dan lebih optimal, serta berdampak pada masyarakat.

    “Jadi intinya, kita misalnya punya program mencari benih padi unggul dengan kriteria tertentu, nah dari pada kita melepaskan ke masing-masing untuk kompetisi, lebih baik mereka saling bersinergi untuk benih padi yang memang kita butuhkan,” kata mantan Menteri Keuangan itu. “Kita justru harus menciptakan yang merupakan hasil dari kolaborasi.”

    Untuk mencapai kolaborasi tersebut, tentu sumber daya manusianya (SDM) harus ditingkatkan terlebih dahulu. Bambang akan melanjutkan program Riset-Pro, program untuk meningkatkan daya saing Indonesia dalam pembangunan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek).

    Kegiatan Riset-Pro lebih spesifik menciptakan lingkungan kondusif bagi penelitian dan pengembangan di bidang Iptek, memperkuat kinerja insentif, dan meningkatkan kapasitas SDM di Kelembagaan Iptek. “Jadi Riset-Pro ini kan menciptakan SDM-nya, sebelum ada kolaborasi harus ada SDM-nya dulu, tentu harus yang berkualitas, punya passion, ketelatenan melakukan riset, itu yang kita harapkan dari alumnus Riset-Pro,” tutur Bambang.

    Bambang menambahkan bahwa peneliti merupakan pekerjaan yang unik dan tidak semua orang lahir untuk menjadi seorang peneliti. “Karena ciri khas peneliti itu kalau bahasa yang sering disampaikan ibu kepada anaknya adalah kamu harus telaten, nah ciri jadi peneliti itu memang yang pertama kalau tidak bisa telaten itu tidak bisa menjadi peneliti,” kata dia.

    Selain telaten, seorang peneliti juga harus sabar, karena riset itu bukan sesuatu yang mekanik, hari ini dikerjakan pekan depan jadi. “Kalau penjahit bisa, kita pesan hari ini, minggu depan jadi. Tapi kalau riset ini tidak bisa, kadang riset juga tidak bisa ditentukan dalam satu tahun anggaran,” tutur Bambang yang juga seorang ekonom.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.