Situs Arkeologi di Danau Sentani Akan Jadi Destinasi Wisata PON

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Arkeolog Balai Arkeologi Papua memeriksa menhir yang ditemukan di Bukit Yomokho, dekat Danau Sentani, Jayapura, Oktober 2019. Daerah ini diduga hunian prasejarah dari zaman neolitik sampai megalitik. (Dok. Hari Suroto/Balar Papua)

    Arkeolog Balai Arkeologi Papua memeriksa menhir yang ditemukan di Bukit Yomokho, dekat Danau Sentani, Jayapura, Oktober 2019. Daerah ini diduga hunian prasejarah dari zaman neolitik sampai megalitik. (Dok. Hari Suroto/Balar Papua)

    TEMPO.CO, Jakarta - Beberapa situs arkeologi yang ditemukan di kawasan Danau Sentani, di Kampung Dondai, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua, akan dijadikan destinasi wisata untuk para atlet peserta Pekan Olah Raga Nasional (PON) XX Papua 2020.

    “Kami masih bingung di Papua, karena sedikitnya destinasi wisata di Papua untuk peserta PON. Kawasan Danau Sentani kaya akan situs arkeologi terutama situs megalitik,” ujar arkeolog dari Balai Arkeologi Papua Hari Suroto kepada Tempo, Jumat malam, 6 Desember 2019.

    Hari merupakan ketua dari penelitian arkeologi di kawasan Danau Sentani, dengan beranggotakan delapan peneliti, yaitu Gusti Made Sudarmika, Bambang Budi Otomo, Paul Yaam, Elvis Kabey, Eni Lestari, Irmawati, Esau Ohee dan Cory Ohee. Tim menemukan Situs Yomokho di Kampung Dondai, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, yang merupakan kawasan Danau Sentani bagian barat.

    Penelitian Hari berjudul “Identifikasi Jejak Hunian Awal Prasejarah di Kawasan Danau Sentani Bagian Barat,” dan menjadi salah satu dari enam penelitian terbaik dari 118 penelitian dari 10 balai arkeologi dan satu pusat penelitian arkeologi nasional tahun 2019.

    “Situs-situs arkeologi ini dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata bagi peserta PON 2020. Situs-situs ini yaitu Situs Koning U Nibie dengan temuan lumpang batu, Situs Dondai dengan temuan menhir dan papan batu, Situs Warakho dengan tinggalan arkeologi berupa papan batu,” kata Hari.

    Hari juga menyampaikan hal tersebut dalam presentasinya di Seminar Penelitian Arkeologi Terbaik se-Indonesia 2019 di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kamis, 5 Desember 2019.

    Selain itu, Hari melanjutkan, hasil penelitian arkeologi tahun sebelumnya yaitu situs lumpang batu di Kampung Ayapo, Situs Megalitik Tutari, Situs Yomokho, juga berpotensi sebagai destinasi wisata. “Tinggal mengemasnya lebih baik lagi, yaitu dengan memperbaiki fasilitas-fasilitas pendukung seperti toilet, pemasangan papan informasi situs,” kata Hari. “Serta pelatihan bagi penjaga situs atau pemandu.”

    Menurutnya, agar bisa tercapai, semua pihak harus bekerja sama dan saling mendukung, baik dari dinas terkait, tokoh adat, tokoh masyarakat dan pemilik tanah ulayat situs.

    "Masyarakat sekitar situs juga perlu dilibatkan, yaitu dengan menggali potensi ekonomi kreatif setempat, seperti kerajinan noken, lukisan kulit kayu, kerajinan miniatur perahu tradisional Sentani, kerajinan ukiran Sentani, serta kuliner tradisional Sentani," tambahnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cegah Covid-19, Kenali Masker Kain, Bedah, N95, dan Respirator

    Seorang dokter spesialis paru RSUP Persahabatan membenarkan efektifitas masker untuk menangkal Covid-19. Tiap jenis masker memiliki karakter berbeda.