Sandiaga Uno: Kecerdasan Emosional Lebih Dibutuhkan daripada AI

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sandiaga Uno bersama istrinya Nur Asia Uno menghadiri Rapat Pimpinan Nasional dan Apel Kader Partai Gerindra di Padepokan Garudayaksa Partai Gerindra, Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Rabu 16 Oktober 2019. Tempo/ Fikri Arigi.

    Sandiaga Uno bersama istrinya Nur Asia Uno menghadiri Rapat Pimpinan Nasional dan Apel Kader Partai Gerindra di Padepokan Garudayaksa Partai Gerindra, Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Rabu 16 Oktober 2019. Tempo/ Fikri Arigi.

    TEMPO.CO, Jakarta - Pebisnis dan politikus Sandiaga Uno menyebutkan, emotional intelligence atau kecerdasan emosional akan menjadi kemampuan yang akan sangat dibutuhkan di masa depan.

    Ditemui dalam acara Jakarta Halal Things yang digelar di Senayan City, Minggu, 8 Agustus 2019, Sandiaga menyebutkan beberapa waktu lalu internet of thingsrobotics dan artificial intelligence menjadi komoditas yang sangat dibanggakan. Ke depan, ujar Sandi, untuk meningkatkan daya saing justru kecakapan emosional yang akan sangat dibutuhkan.

    “Ternyata bukan artificial intelligence (yang dibutuhkan) tapi emotional intelligence karena ujung-ujungnya pasar itu manusia juga, dan manusia adalah makhluk yang kompleks dan banyak sekali, justru aspek emosionalnya. Manusia ternyata enggak suka hal-hal yang artificial, mereka suka yang autentik,” ujar Sandi.

    Sebagai contoh, Sandi menyebutkan perusahaan motor listrik, Tesla adalah hasil dari kecerdasan emosional yang mampu memberikan citra tersendiri pada produknya.

    “Orang-orang yang beli produk Tesla itu tidak memberikan penjelasan secara spesifik. They just buy product because it’s Tesla. Karena ini menyentuh emosi, karena kita pengen rasa aman, nyaman,  ada rasa keren produk tersebut. Itu yang menyentuh sisi emosi dari customer kita,” kata  Sandi.

    Ke depan, pelaku usaha diharapkan dapat mengenali aspek emosional manusia. Produk, lokasi dan promosi, menurut Sandi memang tetap penting, namun di era saat ini orang tidak hanya membeli berdasarkan ketiga hal dasar tersebut. 

    “Jadi saya ingin mengajak para entrepreneur pikir 10 sampai 15 tahun lagi, untuk menciptakan industri  yang berbasis emosional. Itu enggak dibeli, direkayasa, harus betul-betul dimengerti melalui pendekatan emosional intelegensi,” katanya.

    “Beli bukan lagi karena harga, beli bukan lagi karena kualitas, bukan juga karena sampai ke kitanya cepat, tapi karena enak nih di hati. Itu yang sampai sekarang diriset oleh pebisnis besar untuk pasar kita ke depan,” ujar Sandiaga Uno.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.