Tim Geodesi ITB Temukan Penurunan Tanah di 23 Daerah, Mana Saja?

Warga berziarah di tempat pemakaman umum yang terendam air laut akibat abrasi di Desa Timbulsloko, Sayung, Demak, Jawa Tengah, Kamis 14 Maret 2019. Abrasi yang mengikis garis pantai Kabupaten Demak sekitar tahun 1995 berdampak pada peralihan fungsi lahan setempat yang awalnya merupakan areal pertanian produktif berangsur menjadi tambak ikan dan sebagian kini telah menjadi perairan akibat kenaikan permukaan air laut disertai penurunan permukaan tanah mencapai sekitar 10 sentimeter per tahun. ANTARA FOTO/Aji Styawan

TEMPO.CO, Bandung- Tim Geodesi Institut Teknologi Bandung menemukan 23 daerah di Indonesia mengalami penurunan tanah (land subsidence). Badan Geologi mencocokkan temuan itu dengan Atlas Peta Sebaran Tanah Lunak Indonesia keluaran 2019.

“Wilayah penurunan muka tanah di Indonesia itu terjadi di area sebaran tanah lunak,” kata Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan Badan Geologi Andiani, Jumat, 13 Desember 2019.

Berdasarkan peta potensi subsiden tanah di wilayah Indonesia dari tim Geodesi ITB keluaran 2018, daerah yang amblas itu Langsa, Medan, Indragiri, Palembang, Pontianak, Palangkaraya, Mahakam, Gorontalo, dan Papua selatan.

Daerah terbanyak di Pulau Jawa, yaitu Tangerang, Jakarta, Bekasi, Pongkor, Bandung, Bungbulang, Cilacap, Pondok Bali, dan Cirebon. Daerah lain yang amblas yaitu Kendal, Semarang, Demak, dan Pekalongan.

Menurut anggota tim riset Geodesi ITB Heri Andreas, daerah pesisir pantai penurunan tanahnya rata-rata berkisar 1-20 sentimeter per tahun. Ancaman  banjir rob karena kenaikan air muka laut akibat pemanasan global. Contohnya utara Jakarta. “Kalau sea level rise aja nggak masuk hitungannya, ternyata land subsidence,” ujarnya kepada Tempo di ITB, 6 November 2019.

Metode penelitian tim Geodesi ITB menggunakan citra dan data satelit serta global positioning system (GPS). Keduanya kata Heri mengukur penurunan tanah di suatu kawasan dengan perhitungan data secara berkala.

Badan Geologi menurut Andiani sejauh ini belum memiliki atlas atau peta khusus penurunan tanah di Indonesia. “Untuk amblesan belum ada risetnya,” kata dia di Museum Geologi. Pihaknya baru meneliti di Jakarta dan Semarang, sementara di Bandung belum dilakukan.

Andiani mengatakan perlu riset soal penurunan tanah sambil berkolaborasi dengan pihak lain. Sebab Pekalongan misalnya, sawahnya sudah tergenang air. Riset yang ada sementara ini tentang kajian geoteknik untuk mengetahui lapisan batuan. “Perlu pemasangan patok-patok monitor mana yang ambles dan sebesar apa amblesannya,” ujarnya.






Gempa Garut, BPBD Cek Laporan Kerusakan Hampir 500 Bangunan

3 hari lalu

Gempa Garut, BPBD Cek Laporan Kerusakan Hampir 500 Bangunan

Gempa M4,3 menjelang tengah malam itu ternyata cukup merusak. Dipicu Sesar Garsela.


Potensi Mineral Litium dari Lumpur Lapindo di Sidoarjo

4 hari lalu

Potensi Mineral Litium dari Lumpur Lapindo di Sidoarjo

Badan Geologi ukur kandungan litium, stronsium dan logam tanah jarang dalam sampel endapan lumpur Lapindo. Dari bencana menjadi berkah. Mungkinkah?


Badan Geologi ESDM Usulkan Penerbitan WIUP Logam Tanah Jarang

4 hari lalu

Badan Geologi ESDM Usulkan Penerbitan WIUP Logam Tanah Jarang

ESDM mengirimkan usulan penerbitan Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) untuk Rare Earth Material atau logam tanah jarang (LTJ).


Pos Indonesia Meluncurkan Seri Prangko Seabad Observatorium Bosscha Hari Ini

6 hari lalu

Pos Indonesia Meluncurkan Seri Prangko Seabad Observatorium Bosscha Hari Ini

Agen pos dan kolektor menyayangkan PT Pos Indonesia tidak mengumumkan rencana penerbitan prangko Seabad Observatorium Bosscha sejak jauh hari.


ITB Gagas Pusat Studi Antariksa, Rektor: Lokasinya Masih Rahasia

6 hari lalu

ITB Gagas Pusat Studi Antariksa, Rektor: Lokasinya Masih Rahasia

Rektor ITB mengatakan, 2023 merupakan tahun istimewa untuk astronomi di Indonesia.


Seabad Usia Observatorium Bosscha, Waktunya Astronom Pindah ke Timau?

7 hari lalu

Seabad Usia Observatorium Bosscha, Waktunya Astronom Pindah ke Timau?

Observatorium Bosscha genap berusia 100 tahun. Astronom BRIN cerita polusi cahaya parah dari Kota Bandung.


Video Viral Cahaya Misterius di Atas Gunung Merapi, Begini Isinya

11 hari lalu

Video Viral Cahaya Misterius di Atas Gunung Merapi, Begini Isinya

Badan Geologi membenarkan video yang tengah viral di media sosial tentang benda misterius melintas di atas puncak Gunung Merapi pada dinihari.


Gunung Anak Krakatau Erupsi Ketiga Kalinya, PVMBG: Sinar Api Setinggi 350 Meter

12 hari lalu

Gunung Anak Krakatau Erupsi Ketiga Kalinya, PVMBG: Sinar Api Setinggi 350 Meter

Gunung Anak Krakatau erupsi ketiga kalinya pada Selasa, 24 Januari 2023.


Odiga, Aplikasi Besutan Mahasiswa ITB berbasis AI untuk Rencanakan Perjalanan

13 hari lalu

Odiga, Aplikasi Besutan Mahasiswa ITB berbasis AI untuk Rencanakan Perjalanan

Dua mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil membuat aplikasi Odiga, yakni web aplikasi perencanaan perjalanan.


Begini Kepala Observatorium Bosscha Melihat Devitalisasi Planetarium Jakarta

15 hari lalu

Begini Kepala Observatorium Bosscha Melihat Devitalisasi Planetarium Jakarta

Kepala Observatorium Bosscha, Premana W. Premadi, menyatakan ingin tetap berpikir positif tentang devitalisasi Planetarium Jakarta. Maksdunya?