Tahun Baru Identik Kembang Api, Berawal Kecelakaan Penelitian

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kembang api menghiasi langit dnegat menara Eiffel saat peringatan Hari Bastille, Paris, 14 Juli 2019. Hari Bastille adalah sebutan lain bagi Hari Nasional Prancis yang diperingati setiap tanggal 14 Juli.  REUTERS/Benoit Tessier

    Kembang api menghiasi langit dnegat menara Eiffel saat peringatan Hari Bastille, Paris, 14 Juli 2019. Hari Bastille adalah sebutan lain bagi Hari Nasional Prancis yang diperingati setiap tanggal 14 Juli. REUTERS/Benoit Tessier

    TEMPO.CO, Jakarta - Malam pergantian tahun baru identik dengan perayaan kembang api, namun siapa yang menyangka bahwa kembang api muncul akibat dari kecelakaan sebuah penelitian. Bahkan kembang api bukanlah tujuannya, demikian menurut American Pyrotechnics Safety and Education Foundation.

    Di suatu tempat sekitar 800 M, ahli kimia Cina mencampurkan senyawa kalium nitrat, sulfur dan arang untuk menciptakan mesiu mentah. Mereka sebenarnya mencari resep untuk kehidupan kekal, demikian dikutip Live Science, baru-baru ini.

    Ledakan tersebut mengejutkan dan membawa kemalangan bagi seorang ahli kimia Cina. Menurut Gunpowder, Explosives and the State: A History (Routledge, 2016), di Cina awal abad kesembilan, alkimia adalah hal yang paling disukai. Tujuan alkimia adalah untuk menghasilkan zat yang akan memperpanjang hidup, atau bahkan menipu kematian.

    Alkimia tidak pernah menemukan ramuan yang menantang maut. Tapi itu menghasilkan ledakan yang mengubah cara kita merayakan liburan di seluruh dunia, salah satunya yang dirayakan pada saat tahun baru. Begitu mereka menyadari apa yang telah mereka buat adalah ledakan, orang Cina percaya bahwa ledakan tersebut bisa mengusir roh jahat.

    Sebuah ledakan hanya membutuhkan tiga komponen. Pertama, harus ada bahan bakar, bahan kimia yang terdiri dari molekul panjang seperti rantai dengan ikatan yang sangat kuat. Kemudian, harus ada bahan kimia yang disebut oksidator. Oksidator memutuskan ikatan-ikatan itu, melepaskan energi yang luar biasa dalam prosesnya. Akhirnya, cukup dengan panas maka akan mendapatkan reaksi ledakan.

    Seperti yang ditulis oleh salah satu teks Tiongkok yang berasal dari pertengahan abad kesembilan: "Asap dan api terjadi, sehingga tangan dan wajah (para ilmuwan) telah dibakar, dan bahkan seluruh rumah tempat mereka bekerja terbakar."

    Mengutip Smithsonian Magazine suara keras yang dibuat ketika dilemparkan ke dalam api dianggap menakuti roh-roh jahat. Namun, percobaan kimia tidak hanya menghasilkan kembang api yang paling awal. Ramuan itu, yang kemudian disebut bubuk mesiu, juga digunakan dalam peperangan.

    Pada abad ke-13, bubuk mesiu digunakan untuk mendorong roket yang dicat seperti naga ke arah invasi bangsa Mongol, dan pada abad yang sama Marco Polo membawa barang-barang itu kembali ke Eropa, demikian dilaporkan ThoughtCo.

    Dari sana, Barat mengembangkan teknologi kembang api menjadi senjata yang lebih kuat yang kita kenal sekarang sebagai meriam dan musket. Orang-orang di Barat masih mempertahankan gagasan asli tentang kembang api dan menggunakannya selama perayaan.

    Di Inggris, para penguasa menggunakan pertunjukan kembang api untuk menghibur pengikutnya. Pertunjukan kembang api kerajaan pertama diperkirakan terjadi pada hari pernikahan raja Inggris, Henry VII pada 1486. Tidak kalah, kaisar Rusia pertama yang dijuluki Czar Peter the Great of Russia juga mengadakan pertunjukan kembang api selama 5 jam untuk menandai kelahiran putranya.

    LIVE SCIENCE | SMITHSONIAN MAGAZINE | THOUGHTCO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal yang Dilarang dan Dibatasi Selama Pemberlakuan PSBB Jakarta

    Anies Baswedan memberlakukan rencana PSBB pada 9 April 2020 di DKI Jakarta dalam menghadapi Covid-19. Sejumlah kegiatan yang dilarang dan dibatasi.