Pakar Khawatir Kebakaran Hutan Australia Punahkan Semua Spesies

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Langit bersinar merah ketika kebakaran hutan terus mengamuk di Mallacoota, Victoria, Australia, 31 Desember 2019. Jonty Smith from Melbourne/via REUTERS

    Langit bersinar merah ketika kebakaran hutan terus mengamuk di Mallacoota, Victoria, Australia, 31 Desember 2019. Jonty Smith from Melbourne/via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Para pakar konservasi dan margasatwa khawatir bahwa kebakaran hutan hebat yang melanda Australia telah menghasilkan kerugian besar, di tengah kekhawatiran bahwa seluruh spesies mungkin telah musnah.

    "Kami melihat kanguru dan koala dengan tangan terbakar. Sudah cukup emosional," ujar Sam Mitchell, salah satu pemilik Taman Margasatwa Pulau Kanguru, demikian dikutip laman Independent, Ahad, 5 Januari 2020.

    Menurut para ahli, populasi marsupial kecil yang disebut kelinci dan kakaktua hitam mengkilap mungkin telah hancur dalam kebakaran yang membakar sepertiga Pulau Kanguru.

    Pulau itu, terletak di lepas pantai selatan negara itu, dikenal sebagai jawaban Australia untuk Kepulauan Galapagos, tapi apa yang tersisa telah digambarkan sebagai tanah kosong hangus.

    Para ahli ekologi berharap menemukan populasi dunnart yang bertahan dan menyelamatkan mereka sebelum mereka benar-benar hilang. Heidi Groffen, ekologis dan koordinator dari Kanguru Island Land for Wildlife, mengatakan hewan berkantung seperti tikus itu terlalu kecil untuk berlari lebih cepat dari kebakaran hutan dan populasi sekitar 300 spesies mungkin telah musnah.

    Tapi dia tetap berharap beberapa mungkin menemukan tempat berlindung di celah-celah batu. "Bahkan jika ada yang selamat, tidak ada makanan untuk mereka sekarang," katanya. "Kami berharap untuk membawa beberapa sebelum mereka benar-benar hilang."

    Pat Hodgens, ahli ekologi fauna untuk organisasi nirlaba yang sama mengatakan ini masih awal. Api masih menyala, tapi mereka kehilangan banyak tempat perlindungan kritis untuk spesies langka yang akan mempengaruhi kelangsungan hidup jangka panjang dari spesies-spesies ini.

    “Kelinci Pulau Kanguru adalah spesies utama yang menjadi perhatian kami dan sepertinya seluruh rangkaian (habitat) yang dikenal telah terbakar. Kami sedang mencari tambalan sisa habitatnya yang tidak terbakar untuk melihat apakah kami dapat menemukannya melalui perangkap kamera," tutur Hodgens.

    Hodgens melanjutkan, tim telah menempatkan kamera untuk mencoba dan mendeteksi setiap penyintas, dan berharap menemukan semua area potensial spesies yang dapat bertahan melalui pemetaan drone.

    Populasi koala berkekuatan 50.000 ekor di pulau itu juga menderita sangat besar, dengan separuh dari populasi diyakini telah terbunuh oleh kebakaran. Tidak jelas berapa banyak kawanan unik kakatua hitam mengkilap langka yang lolos dari kobaran api, dan apakah mereka memiliki masa depan di sebuah pulau di mana sebagian besar habitat mereka berubah menjadi abu.

    Daniella Teixera, ahli biologi konservasi yang mengambil gelar doktoral tentang burung-burung di Universitas Queensland, mengatakan: "Kami tidak tahu sejauh mana kerusakan pada habitat mengkilap KI, tapi kami tahu bahwa area kritis dari lokasi memberi makan dan berkembang biak telah dibakar."

    Dia percaya burung-burung itu berada di posisi terbaik untuk melarikan diri dari kebakaran karena mereka mampu terbang. Namun, seperti kelinci, kakatua mungkin mendapati mereka tidak memiliki cukup makanan yang tersisa di pulau itu.

    Burung-burung hanya mendapat makan dari satu jenis pohon dan banyak titik panas di pulau itu terus menyala. Menurut Teixera, kerja konservasi yang hati-hati selama 25 tahun terakhir membuat populasi kakatua hitam mengkilap meningkat dari 150, tapi keuntungan itu telah terhapus dalam waktu seminggu.

    Mitchell menjelaskan bahwa dirinya akan melakukan apa pun yang dia bisa untuk merehabilitasi satwa liar asli, tapi itu akan memakan waktu bertahun-tahun untuk pulih. Penggalangan dana yang disiapkan untuk Kangaroo Island Wildlife Park telah mengumpulkan A$ 183.464, jauh lebih banyak daripada target awalnya, yaitu A$ 15.000.

    Profesor Chris Dickman dari University of Sydney mengatakan kepada 7News bahwa tantangan untuk membangun kembali populasi satwa liar adalah tantangan jangka panjang. Menurutnya banyak orang di luar sana yang membantu dengan pergi ke daerah yang telah terbakar untuk mencari koala dan satwa liar asli lainnya yang terpengaruh.

    "Dalam jangka panjang, pembangunan kembali populasi spesies asli akan menjadi masalah," kata Dickman. "Banyak yang pasti terkena dampak buruk dari kebakaran ini."

    INDEPENDENT | ADELAIDE NOW | 7NEWS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.