Iran Serang AS dengan Puluhan Rudal Katyusha Rusia

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Roket Katyusha. Kredit: Wikipedia

    Roket Katyusha. Kredit: Wikipedia

    TEMPO.CO, Jakarta - Iran mengklaim telah melakukan serangan puluhan rudal ke setidaknya dua pangkalan militer pimpinan Amerika Serikat di Irak pada Rabu dini hari, 8 Januari 2020. Serangan tersebut menggunakan rudal Katyusha, rudal buatan Rusia.

    Serangan itu dipicu oleh serangan drone ke sebuah area di dekat bandara Baghdad pada 3 Januari 2020 yang menewaskan Qassem Soleimani, Kepala Pasukan khusus Quds Garda Militer Iran, yang juga sosok berpengaruh di militer Iran berpangkat jenderal.  

    Mengutip laman National Interest baru-baru ini, Katyusha adalah bahasa panggilan sayang Rusia untuk 'Katherine Kecil'. Ini adalah nama yang ironis untuk salah satu benda artileri paling mematikan dalam sejarah. Nama itu sendiri telah menjadi generik, singkatan praktis untuk segala jenis artileri roket dari Dataran Tinggi Golan hingga Darfur.

    BM-13 Katyusha adalah truk bermuatan beberapa peluncur roket. Seperti T-34, Katyusha terbukti mengejutkan bagi pasukan Jerman pada 1941. Tiba-tiba menimbulkan 4,35 ton air bah dengan ledakan besar seluas 10 hektare dalam 7 hingga 10 detik, menurut satu sumber.

    Jerman kemudian mengembangkan peluncur roket mereka sendiri, Nebelwerfer yang terkenal jahat, atau "Screaming Mimi" seperti yang disebut oleh AS.

    Rudal Katyusha yang ujungnya berwarna ungu itu cenderung tidak akurat. Namun, Little Kate bekerja dengan baik untuk Rusia, yang ingin menghancurkan pertahanan Jerman -- terkadang menggunakan artileri massa yang dikelompokkan ke dalam divisi artileri besar -- sebelum mengirim pasukan penyerang.

    AS juga telah mengubah beberapa Sistem Peluncur Roket Ganda menjadi senjata berpemandu GPS. Untuk jenis perang kontra pemberontakan yang dilakukan AS selama bertahun-tahun, menghancurkan suatu daerah dengan roket kontraproduktif. Bagi Hizbullah yang membidik kota-kota Israel, atau Tentara Merah yang membersihkan para penyintas Jerman, Katyusha mampu menghadapinya.

    Katyusha menjadi perlengkapan perang sejak Perang Dunia II, ketika Katyusha Rusia yang legendaris menghancurkan pasukan Nazi. Meskipun menghasilkan kehancuran yang menakutkan dan mengesankan dengan salvo multi-roket berapi dari satu peluncur, roket artileri ini menjadi senjata yang tidak akurat.

    Ada dua jenis rudal Katyusha, Katyusha 122 mm dan 107 mm dengan jarak masing-masing 20 dan 8 kilometer. Kemudian pada 1960-an Katyusha dikembangkan dan menjadi rudal Grad, yang sudah digunakan banyak negara, termasuk Korea Utara, Iran dan Vietnam.

    NATIONAL INTEREST


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.