BMKG Bantah Ada Zona Megathrust di Selat Makassar

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pegawai BMKG menunjukkan bagan prediksi cuaca di Kantor BMKG Jakarta, Selasa 7 Januari 2020. (ANTARA/Katriana)

    Pegawai BMKG menunjukkan bagan prediksi cuaca di Kantor BMKG Jakarta, Selasa 7 Januari 2020. (ANTARA/Katriana)

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono membantah pemberitaan soal zona megathrust di Selat Makassar. Selat itu merupakan perairan yang diapit Pulau Kalimantan dan Sulawesi. “Informasi itu tidak benar,” kata Daryono, Sabtu, 11 Januari 2020.

    Menurutnya belakangan ini beredar pemberitaan yang menyebutkan di Selat Makassar terdapat zona megathrust yang mampu memicu gempa mahadahsyat. Daryono menunjukkan dua media yang diduga menjadi sumbernya.

    Dari penelusuran Tempo, nama sebuah media online yang tercantum di antaranya tidak terlacak. Adapun sebuah media online lain membuat gambar peta Sulawesi dan sumber-sumber gempanya. Di bagian kiri gambar pulau atau Selat Makassar tertulis potensi gempa maha dahsyat.

    Megathrust merupakan istilah untuk menyebut sumber gempa di zona penunjaman lempeng, tepatnya lajur subduksi landai dan dangkal. “Di Selat Makassar tidak ada aktivitas penunjaman lempeng megathrust, yang ada sumber gempa Makassar Strait Thrust yang artinya sesar naik Selat Makassar,” ujar Daryono.

    Pada buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017 terbitan Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN), wilayah Pulau Sulawesi memiliki 48 struktur sesar aktif dan sebuah zona megathrust di Sulawesi Utara.

    Di Sulawesi, zona megathrust ini berhadapan dengan wilayah pesisir pantai utara Sulawesi Utara, Gorontalo, dan sebagian Sulawesi Tengah bagian utara. “Megathrust Sulawesi Utara merupakan sumber gempa yang berpotensi memicu gempa kuat,” kata Daryono.

    Catatan sejarah gempa dan tsunami menunjukkan di Pulau Sulawesi dan sekitarnya sejak 1800 sudah terjadi lebih dari 69 kali gempa bumi yang merusak dan menimbulkan tsunami. Peristiwa gempa merusak terjadi lebih dari 45 kali dan tsunami lebih dari 24 kali. “Sebagian besar gempa dan tsunami di Sulawesi dipicu oleh aktivitas sesar aktif, bukan aktivitas zona megathrust,” kata Daryono.

    Dari 24 kali kejadian tsunami di Sulawesi, yang dipicu oleh Megathrust Sulawesi Utara sebanyak 4 kali. Kejadiannya yaitu Tsunami Utara Gorontalo 25 Agustus 1871, Tsunami Tolitoli 2 Februari1904, Tsunami Kwandang-Manado 29 Januari 1920. Ketiganya tanpa menimbulkan korban jiwa. Pada Tsunami Tolitoli 1 Januri 1996 tercatat ada sembilan orang meninggal.

    Sulawesi tergolong pulau yang rawan gempa karena sumbernya banyak. “Namun demikian potensi gempa harus disampaikan kepada masyarakat apa adanya sesuai fakta dan tidak berlebihan hingga menimbulkan kecemasan masyarakat.” Daryono meminta segala informasi terkait potensi gempa dan tsunami harus direspons dengan langkah nyata dengan upaya memperkuat mitigasi guna meminimalkan dampak bencana.

    ANWAR SISWADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Wuhan Menjangkiti Kapal Pesiar Diamond Princess

    Jumlah orang yang terinfeksi virus korona Wuhan sampai Minggu, 16 Februari 2020 mencapai 71.226 orang. Termasuk di kapal pesiar Diamond Princess.