CEO Microsoft Pamer Pakai Smartphone Layar Lipat Surface Duo

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Microsoft Surface PC. Kredit: Digital Trends/Ryan Smalley

    Microsoft Surface PC. Kredit: Digital Trends/Ryan Smalley

    TEMPO.CO, Jakarta - CEO Microsoft, Satya Nadella, memamerkan dan menggunakan smartphone layar lipat versi awal terbaru garapan Microsoft bernama Surface Duo. Padahal smartphone dua layar itu baru direncanakan dirilis akhir 2020.

    Menurut sebuah unggahan melalui Twitter oleh Brian Sozzi, Editor-at-large dari Yahoo Finance, Nadella dengan santai mengeluarkan Surface Duo yang akan dilipatnya di depan umum. Sozzi mengaku terkesan.

    "CEO Microsoft @satyanadella mengeluarkan Surface Duo yang dapat dilipat dan saya terpesona. Perangkat yang mulus! @YahooFinance," demikian bunyi cuitan Sozzi di akun resminya @BrianSozzi, Ahad, 12 Januari 2020.

    Sejak Microsoft mengumumkan Surface Duo pada Oktober 2019, Nadella memang telah mengungkapkan bahwa dia sudah menggunakannya. "Saya ingin bisa membukanya, mencatat. Ini pengalaman pertama yang menyenangkan," ujarnya, seperti dikutip laman GeekWire.

    Surface Duo dan versi yang lebih besar yang didukung Windows, Surface Neo, masih beberapa bulan lagi untuk dirilis ke publik. Informasi yang beredar menyebutkan Surface Duo akan menjalankan sistem operasi Android. Microsoft juga dikabarkan bekerja sama dengan Google untuk membuat aplikasi Android yang cocok dengan pengaturan layar ganda tersebut.

    Smartphone itu dilengkapi dengan layar ganda 5,6 inci yang memungkinkannya untuk dilipat dan dimasukkan ke dalam saku. Ketika dibuka atau mode tablet, ukuran layarnya menjadi 8,3 inci. Menariknya Microsoft bersikeras bahwa Surface Duo bukan termasuk dalam jenis smartphone, meskipun dapat membuat dan menerima panggilan suara dan video.

    TECH RADAR | GEEKWIRE


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.