Elang Hitam akan Tandingi Drone Tempur Cina, Simak Rencana Ujinya

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) jenis Medium Altitude Long Endurance (MALE) diperlihatkan saat pengenalan perdana di hanggar PT Dirgantara Indonesia (Persero), Bandung, Jawa Barat, Senin, 30 Desember 2019. ANTARA

    Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) jenis Medium Altitude Long Endurance (MALE) diperlihatkan saat pengenalan perdana di hanggar PT Dirgantara Indonesia (Persero), Bandung, Jawa Barat, Senin, 30 Desember 2019. ANTARA

    TEMPO.CO, Bandung - Purwarupa drone Elang Hitam menarik perhatian Presiden Joko Widodo saat mengunjungi pameran di Kementerian Pertahanan, Kamis 23 Januari 2020. Produk final drone tersebut dirancang akan mengusung sejumlah kemampuan diantaranya pengawasan, pengintaian, hingga pertempuran dengan mengusung persenjataan rudal.

    Drone itu dikembangkan sejak 2015 menjadi pesawat udara nir awak jenis medium altitude long endurance (PUNA MALE). Serangkaian uji dan pengembangan dijadwalkan dijalani Elang Hitam mulai tahun ini, dan ditargetkan mengantongi sertifikasi produk militer pada 2023.

    “BPPT dan konsorsium PUNA MALE sangat membutuhkan dukungan Presiden, Menhan dan Panglima TNI untuk akselerasi program MALE Kombatan Elang Hitam,” kata Kepala BPPT Hammam Riza, dalam keterangan tertulis yang dibagikan, Kamis 23 Januari 2020.

    Elang Hitam PUNA MALE merupakan kerja keroyokan BPPT, PT Dirgantara Indonesia, PT LEN Industri, Lapan, Institut Teknologi Bandung, TNI Angkatan Udara, serta Kementerian Pertahanan. Sosok drone Elang Hitam itu muncul pertama kali dikeluarkan dari hanggar di kompleks PT Dirgantara Indonesia di Bandung, 30 Desember 2019.

    Hamam menerangkan, sejak awal pengembangan pesawat nir awak itu untuk mendukung misi pertempuran, kendati pemanfaatannya tidak hanya sebatas itu. Elang Hitam bisa menjadi solusi teknologi menjawab tantangan pengawasan wilayah NKRI baik di darat mau pun laut.

    Purwarupa PUNA MALE Elang Hitam (EH-1) yang dikembangkan BPPT saat dipamerkan di Kementerian Pertahanan, Kamis 23 Januari 2020. Drone tempur ini diklaim bisa terbang 30 jam nonstop. FOTO/DOK BPPT

    Hammam mengatakan, PUNA MALE untuk menjawab kebutuhan pesawat udara yang mampu melakukan pengawasan yang efisien. Program PUNA MALE sekaligus untuk membangun kemampuan penguasaan teknologi kunci pesawat nir awak. Diantaranya flight control system, weapon platform integration, electro optic targetting system, hingga penguasaan teknologi material komposit.

    “Ini semua teknologi kunci yang tidak dapat diberikan negara lain secara cuma-cuma pada kita,” kata Hamam saat roll-out, Desember lalu.

    Masing-masing anggota Konsorsium menyumbangkan inovasinya untuk pengembangan PUNA MALE. PT Dirgantara Indonesia, misalnya, membangun air-frame pesawat. Sedang PT LEN Industri membangun sistem kontrol dan senjata, serta Lapan menyumbangkan pengembangan teknologi SAR (synthetic-aperture radar).


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.