Top 3 Tekno Berita Hari Ini: WWF dan Virus Corona Tanpa Gejala

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Harimau sumatera remaja sedang mengikuti tapir di hutan  Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung pada bulan Maret 2019 lalu. (WWF-Indonesia)

    Harimau sumatera remaja sedang mengikuti tapir di hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung pada bulan Maret 2019 lalu. (WWF-Indonesia)

    TEMPO.CO, Jakarta - Top 3 Tekno berita hari ini dimulai dari topik tentang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengakhiri kerja samanya dengan Yayasan WWF Indonesia. Kuntoro Mangkusubroto, Ketua Badan Pembina Yayasan WWF Indonesia, menjelaskan bahwa perjanjian kerja sama dengan KLHK seharusnya berakhir pada 2023. Keputusan yang dibuat kementerian disebutnya sepihak.

    Berita terpopuler lainnya, Komite Nasional Keselamatan Transportasi Amerika Serikat mengungkap detik-detik menjelang helikopter yang mengangkut sembilan orang, termasuk legenda NBA Kobe Bryant, jatuh dan meledak di Calabasas, California, Amerika Serikat, pada Minggu pagi 26 Januari 2020.

    Juga, cepat bertambahnya korban virus corona memicu dugaan bahwa virus yang dijuluki 2019-nCoV, memiliki daya tular yang lebih tinggi daripada yang semula diperkirakan. Ini disampaikan sendiri oleh Menteri Kesehatan Cina Ma Xiaowei. "Penularan antar manusia sulit dibendung karena virus itu dapat menyebar bahkan sebelum gejala penyakitnya tampak," ujar Xiaowei seperti dikutip dari Newscientist, Senin, 27 Januari 2020.

    Berikut tiga berita terpopuler di kanal Tekno:

    1. Hubungan Kerja Diputus KLHK, WWF Indonesia: Sepihak

    Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengakhiri kerja samanya dengan  Yayasan WWF Indonesia. Keputusan itu termuat dalam surat keterangan menteri nomor SK.32/Menlhk/Setjen/KUM.1/1/2020 yang diterbitkan pada 10 Januari 2020.

    Kuntoro Mangkusubroto, Ketua Badan Pembina Yayasan WWF Indonesia, menjelaskan bahwa perjanjian kerja sama dengan KLHK seharusnya berakhir pada 2023. Keputusan yang dibuat kementerian disebutnya sepihak.

    "Banyak pertanyaan: kenapa? mengapa mendadak diputus hubungannya?” ujar Kuntoro saat memberikan keterangan khusus menanggapi pemutusan kerja sama itu di Hotel Fairmont, Jakarta Pusat, Selasa malam, 28 Januari 2020.

    2. Ini Detik-detik Sebelum Helikopter Kobe Bryant Jatuh dan Meledak

    Komite Nasional Keselamatan Transportasi Amerika Serikat mengungkap detik-detik menjelang helikopter yang mengangkut sembilan orang, termasuk legenda NBA Kobe Bryant, jatuh dan meledak di Calabasas, California, Amerika Serikat, pada Minggu pagi 26 Januari 2020. Helikopter itu sempat meminta izin ke air traffic control terbang dalam kondisi cuaca dengan jarak pandang di bawah batas yang biasa diizinkan atau direkomendasikan.

    Beberapa saat kemudian terekam percakapan terakhir kalau pilot helikopter itu mengabarkan mendaki untuk menghindari kabut. Ketika ditanya apa yang rencananya akan dilakukan, pilot tak menjawab lagi. Data radar menunjukkan helikopter itu mendaki 2.300 kaki lalu mengayun turun ke kiri. "Kontak radar terakhir terjadi sekitar pukul 9.45 pagi," kata anggota KNKT Amerika, Jennifer Homendy, Senin 27 Januari 2020, seperti dikutip dari CNN.

    Permintaan izin untuk terbang dengan jarak pandang yang lebih pendek (under special visual flight rules) diminta saat helikopter di tengah penerbangan dari John Wayne Airport, di Orange County, menuju Burbank Airport di Thousand Oaks. Di lokasi tujuan itu, Kobe sejatinya menonton tim basket putri yang dilatihnya bertanding. Termasuk anggota tim itu adalah putri Kobe, Gianna (13). Gianna dan dua rekan satu timnya juga ada di helikopter nahas itu.

     

    3. Virus Corona Wuhan Menular Sebelum Gejala Penyakitnya Muncul

    Hingga Selasa malam, 28 Januari 2020, infeksi virus corona yang menyebar dari Wuhan di Provinsi Hubei, terus bertambah menjadi 5.974 kasus di seluruh Cina. Di antara jumlah itu, sebanyak 132 di antaranya berujung kematian dan 103 yang dipastikan sembuh kembali. Angka itu belum menghitung kasus yang sudah terkonfirmasi di 12 negara di luar Cina. 

    Sebagai catatan, jumlah kasus di seluruh Cina itu telah melampaui kejadian saat terjadi wabah SARS, sesama virus corona yang mematikan, pada 2002-2003 lalu. Wabah SARS mencapai 5.327 kasus dalam periode 1 November 2002 hingga 31 Juli 2003. Sedang kasus yang sekarang baru merebak sejak akhir Desember lalu.

    Cepatnya kasus bertambah memicu dugaan kalau 2019-nCoV, virus corona baru asal Wuhan, memiliki daya tular yang lebih tinggi daripada yang semula diperkirakan. Ini disampaikan sendiri Menteri Kesehatan Cina Ma Xiaowei. "Penularan antar manusia sulit dibendung karena virus itu dapat menyebar bahkan sebelum gejala penyakitnya tampak," ujar Xiaowei seperti dikutip dari Newscientist, Senin, 27 Januari 2020.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.