Bayi Leopard Mati di Kebun Binatang Riau Karena Virus

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seekor bayi leopard (Panthera Sp.) atau macan tutul saat di kandang penitipan di Kebun Bintang Kasang Kulim, Riau, Senin 16 Desember 2019. Polda Riau menyitanya bersama 58 kura-kura Indian Star dan empat bayi Singa Afrika dalam kasus perdagangan satwa dilindungi, dan menetapkan dua orang tersangka. (FOTO ANTARA/FB Anggoro)

    Seekor bayi leopard (Panthera Sp.) atau macan tutul saat di kandang penitipan di Kebun Bintang Kasang Kulim, Riau, Senin 16 Desember 2019. Polda Riau menyitanya bersama 58 kura-kura Indian Star dan empat bayi Singa Afrika dalam kasus perdagangan satwa dilindungi, dan menetapkan dua orang tersangka. (FOTO ANTARA/FB Anggoro)

    TEMPO.CO, Pekanbaru - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau mengungkap sebab kematian bayi macan tutul atau leopard di Kebun Binatang Kasang Kulim. Bayi leopard itu merupakan barang bukti kasus penyelundupan satwa yang diungkap lalu disita pada tahun lalu.

    Dokter Hewan BBKSDA Riau, Rini Deswita, mengatakan penyebab kematian satwa yang belum genap berusia satu tahun itu didapatkan setelah melakukan proses nekropsi atau bedah bangkai. Hasilnya menunjukkan bahwa leopard muda tersebut mati akibat infeksi virus parpovirus.

    "Hasil pemeriksaan setelah nekropsi diketahui leopard tersebut akibat penyakit panleukopenia yang disebabkan oleh virus parpovirus," kata Rini selengkapnya, Selasa 4 Februari 2020.

    Menurut dia, penyakit tersebut menyerang bagian pencernaan dan ketika kondisi parah juga bisa menyebar ke saluran pernapasan korbannya. "Virus ada di setiap makhluk hidup dan akan menyerang kalau daya tahan badan berkurang," katanya.

    Ia mengaku kalau tim medis BBKSDA Riau sudah melakukan sejumlah tindakan untuk menyelamatkan bayi leopard tersebut. Disebutkannya bahwa ketika leopard mulai mengalami muntah dan hilang nafsu makan, tim medis langsung memberi infus. Tujuannya untuk menghindari dehidrasi dan mengganti asupan makanan yang kurang.

    Dua dari empat ekor bayi singa yang diselamatkan Polda Riau, 14 Desember 2019, bersama bayi leopard dan sejumlah kura-kura Indian Star. Seluruhnya adalah satwa endemik Afrika. (Antara/Anggi Romadhoni)

    Namun, kondisi leopard terus turun dan semakin lemas. Pemberian infus pada 30 Januari hanya mampu membuat bayi leopard itu bertahan satu hari. Keesokan harinya, satwa itu tak tertolong. 

    Sebelumnya, bayi leopard tersebut diselamatkan Polda Riau dari tangan sindikat perdagangan satwa dilindungi, di Pekanbaru pada 14 Desember 2019. Selain Leopard, polisi juga menyelamatkan empat ekor bayi singa afrika berusia 4-6 bulan dan 58 kura-kura Indian Star.

    Polisi juga sudah menangkap dua orang pelaku yang diduga terlibat perdagangan satwa tersebut. Seluruh satwa endemik Afrika tersebut kemudian dititipkan di Kebun Binatang Kasang Kulim, Kabupaten Kampar. Bayi Leopard ditempatkan di kandang terpisah dan diberi minum susu menggunakan botol.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.