Pria Lebih Rentan Serangan Virus Corona Wuhan, Benarkah?

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas petugas medis saat menangani pasien virus Corona di rumah sakit di Wuhan, Cina. THE CENTRAL HOSPITAL OF WUHAN VIA WEIBO via REUTERS

    Aktivitas petugas medis saat menangani pasien virus Corona di rumah sakit di Wuhan, Cina. THE CENTRAL HOSPITAL OF WUHAN VIA WEIBO via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Beragam informasi bermunculan mengenai jenis virus corona baru atau 2019-nCoV. Satu di antaranya menyebut virus itu lebih banyak menyerang pria ketimbang wanita.

    Informasi lebih banyak menyerang pria itu ternyata berasal dari studi yang dilakukan terhadap virus SARS yang mewabah pada 2002-2003 lalu. Kedua virus memang masih satu keluarga virus corona dan sama-sama mematikan.

    "Sebanyak 71 persen kasusnya pada laki-laki ketimbang perempuan," ujar ahli pulmonologi dari Rumah Sakit Universitas Indonesia, Raden Rara Diah Handayani, dalam media briefing di Depok, Selasa 4 Februari 2020.

    Dokter spesialis mikrobiologi RSUI, R. Fera Ibrahim, menerangkan kalau hal itu berhubungan dengan jumlah reseptor sel ACE2 yang lebih banyak pada pria dibandingkan wanita. Reseptor ini ada di nasofaring hingga otak. Tapi yang paling banyak di sel epitel paru sehingga tampak seperti infeksi saluran napas dan diare.

    "Ada yang meneliti di zaman SARS (mewabah), ternyata reseptor ACE2 pada sel yang diinfeksi virus corona itu banyaknya di laki-laki dan lebih banyak pada ras Asia dibandingkan kulit putih atau hitam," kata Fera.

    Karena mirip dengan SARS, virus corona baru yang saat ini sedang mewabah diduga juga bisa bertahan selama enam hari di udara dingin. Apalagi ada protein tertentu yang membuatnya bertahan lebih lama. Namun, virus ini bisa dilumpuhkan salah satunya melalui pemanasan pada suhu sekitar 56 derajat Celcius selama 30 menit.

    Selain laki-laki, virus corona baru juga disebut lebih rentan menginfeksi orang lanjut usia ketimbang orang muda. Mengenai asumsi ini, Diah mengatakan, semua orang berisiko. Dasarnya, usia mereka yang dilaporkan terinfeksi terentang dari 19 bulan, yang paling muda, sampai usia 89 tahun (paling tua). "Pasien meninggal rata-rata usia 40-50 tahun," katanya.

    Diah memaparkan, total kasus infeksi virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina, itu telah meningkat dari 14.557 kasus pada 2 Februari 2020 menjadi 20.626 kasus pada hari ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal yang Dilarang dan Dibatasi Selama Pemberlakuan PSBB Jakarta

    Anies Baswedan memberlakukan rencana PSBB pada 9 April 2020 di DKI Jakarta dalam menghadapi Covid-19. Sejumlah kegiatan yang dilarang dan dibatasi.