Pendeteksi Kanker Payudara AI Google Lebih Akurat dari Dokter

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Turis mengetahui terkena kanker payudara secara tak sengaja lewat kamera termografis saat sedang liburan bersama keluarga. Sumber: AP/english.alarabiya.net

    Turis mengetahui terkena kanker payudara secara tak sengaja lewat kamera termografis saat sedang liburan bersama keluarga. Sumber: AP/english.alarabiya.net

    TEMPO.CO, Jakarta - Google telah mengembangkan teknologi pemeriksaan deteksi kanker payudara berteknologi kecerdasan buatan (AI) selama dua tahun. Menurut Senior Staff Software Engineer Google Helath Shravya Shetty, hasil penelitian yang dilakukan Google menungkap bahwa AI memiliki kemampuan mendeteksi kanker payudara lebih baik dibandingkan dokter.

    Shetty menjelaskan Google bekerja sama dengan beberapa mitra di DeepMind seperti Cancer Research UK Imperial Centre, Northwestern University, dan rumah sakit Royal Surrey County untuk melakukan penelitian.

    “Temuan menunjukkan model AI kami berhasil mengidentifikasi kanker payudara pada berbagai pencitraan mamograf tanpa identifikasi dengan akurasi yang lebih tinggi, sedikit positif palsu, sedikit negatif palsu dibandingkan dengan para ahli di bidangnya,” katanya melalui konferensi video di Kantor Google Indonesia, Jakarta Selatan, Selasa, 4 Februari 2020.

    Mamografi digital atau pencitraan sinar-X pada payudara merupakan metode paling umum yang digunakan untuk mendeteksi kanker payudara. Namun, meskipun sudah digunakan secara luas, proses mendeteksi dan mendiagnosis kanker payudara sejak dini ini tetap menjadi suatu tantangan sendiri.

    Penelitian Google dilakukan untuk mengetahui apakah teknologi AI dapat membantu para ahli radiologi menemukan tanda kanker payudara secara lebih akurat. Google melatih model AI pada set data representatif yang terdiri dari pencitraan mamografi tanpa identifikasi lebih dari 76.000 perempuan di Inggris dan lebih dari 15.000 perempuan di Amerika Serikat

    Kemudian model dievakuasi pada set data terpisah yang terdiri dari pencitraan memografi tanpa identifikasi lebih dari 25.000 perempuan di Inggis dan lebih dari 3.000 perempuan di Amerika.

    Sistem memperoleh hasil penurunan positif palsu sebesar 5,7 persen di Amerika dan 1,2 persen di Inggris, dan penurunan negatif palsu sebesar 9,4 persen di Amerika dan 2,7 persen di Inggris. “Kami melihat bahwa dalam kasus ini, AI mengungguli dokter,” tuturnya.

    Saat memutuskan hasil deteksi, AI hanya menerima lebih sedikit informasi dibandingkan para ahli. Dokter—seiring dilakukannya pemeriksaan rutin—dapat mengetahui riwayat medis pasien dan hasil uji mamografi, sementara model AI Google hanya memproses mamografi terbaru yang dianonimkan, tanpa disertai informasi tambahan.

    “Namun, walaupun hanya mengandalkan gambar-gambar mamografi atau sinar-X, model AI berhasil melampaui para ahli dalam mengidentifikasi kanker payudara secara akurat,” kata Shetty.

    Penelitian Google menjadi jawaban atas masalah jumlah ahli radiologi yang terbatas dibandingkan jumlah orang yang ingin diperiksa. Di Amerika dan Inggris telah dilakukan lebih dari 42 juta kali pemeriksaan kanker payudara setiap tahunnya. “Ada kekurangan yang besar,” kata Product Manager Google Health Daniel Tse.

    Pria yang biasa dipanggil Dan itu juga menuturkan bahwa selain kekurangan tenaga ahli yang besar, ada juga masalah lain yang dihadapi, yaitu seringkali tugas yang diminta pada ahli radiologi dari dokter ahli menjadi semakin rumit.

    Daniel percaya bahwa ada banyak tawaran dengan mengambil model pembelajaran mesin dan menerapkannya pada masalah kanker payudara. “Untuk memberi Anda konteks tentang mengapa kami tertarik melihat kanker payudara, ini adalah salah satu penyebab kanker paling umum di dunia dengan hampir dua juta kasus baru kanker payudara setiap tahun,” lanjut dia.

    Namun, Daniel menambahkan, model AI yang dibuat Google bukan untuk menggantikan peran para ahli dan dokter. “Ini hanya alat, kerjanya bisa dikombinasikan dengan dokter dan para ahli,” kata Dan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal yang Dilarang dan Dibatasi Selama Pemberlakuan PSBB Jakarta

    Anies Baswedan memberlakukan rencana PSBB pada 9 April 2020 di DKI Jakarta dalam menghadapi Covid-19. Sejumlah kegiatan yang dilarang dan dibatasi.