Dokter di Cina Prediksi Puncak Wabah Virus Corona Pekan Ini

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gambar yang diunggah ke media sosial pada 25 Januari 2020 oleh Rumah Sakit Pusat Wuhan menunjukkan staf medis merawat pasien, di Wuhan, Cina. Jumlah kematian akibat wabah virus corona melonjak menjadi 41 orang ketika Tahun Baru Imlek pada 25 Januari, dengan Hong Kong mengumumkan status darurat virus, membatalkan perayaan, dan membatasi hubungan ke Cina daratan.[RUMAH SAKIT TENGAH WUHAN VIA WEIBO / via REUTERS]

    Gambar yang diunggah ke media sosial pada 25 Januari 2020 oleh Rumah Sakit Pusat Wuhan menunjukkan staf medis merawat pasien, di Wuhan, Cina. Jumlah kematian akibat wabah virus corona melonjak menjadi 41 orang ketika Tahun Baru Imlek pada 25 Januari, dengan Hong Kong mengumumkan status darurat virus, membatalkan perayaan, dan membatasi hubungan ke Cina daratan.[RUMAH SAKIT TENGAH WUHAN VIA WEIBO / via REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Zhong Nanshan, seorang dokter ahli penyakit pernapasan terkemuka di Cina, juga figur penting saat penanggulangan wabah SARS 2002-200 lalu, memperhitungkan puncak wabah virus corona baru akan terjadi dalam pekan ini. Dia mengungkap itu dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Cina, Xinhua, pada Kamis 29 Januari 2020 lalu.

    Saat itu dia memprediksi wabah virus corona yang telah menyebar dari Wuhan, Provinsi Hubei, akan memuncak dalam tujuh atau sepuluh hari ke depan. "Sejauh ini virus itu belum ada obatnya, tapi para ilmuwan dan tim medis sudah melakukan banyak hal yang mendorong angka kematian jauh berkurang," katanya.

    Menurutnya, langkah cepat karantina selama 10-14 hari sangat tepat. Ketika bahaya laten dari masa inkubasi virus itu berlalu, bisa dipastikan mereka yang tidak memiliki gejala penyakit memang tidak terinfeksi virus tersebut.

    Meski begitu, Zhong tetap menyarankan setiap rumah sakit memiliki para ahli atau spesialis penyakit menular. "Untuk menghadapi epidemik, kita harus menguasai dua kunci: deteksi dini dan masa karantina yang cukup. Dua ini adalah metode paling primitif tapi efektif."

    Pasca pengumuman status darurat internasional oleh WHO pada Jumat pekan lalu, jumlah kasus virus corona Wuhan memang dilukiskan sebagai hari-hari paling mematikan di Cina. Pada hari pengumuman itu, Kamis 30 Januari 2020, sebanyak 40 pasien meninggal. Keesokan harinya, Jumat 31 Januari, lebih banyak lagi kasus fatal akibat infeksi virus yang sama yakni 46. Sedang sepanjang Senin 3 Februari 2020, korban pasien meninggal mencapai 64 orang.

    Komisi Kesehatan Nasional Cina menyatakan pada Kamis, seluruh kematian terjadi di Provinsi Hubei atau provinsi di mana berlokasi kota pertama virus corona baru, 2019-nCoV, merebak, yakni Wuhan. Pada Jumat, kematian 45 dari 46 pasien berasal dari Hubei. Sedang Senin 3 Februari, seluruh 64 kematian dari Hubei.

    Secara keseluruhan, per Senin 3 Februari, angka kematian akibat virus corona baru di Provinsi Hubei mencapai 414. Provinsi itu masih menjadi episentrum dari bencana wabah virus corona ini. Meski sejumlah negara lain telah melaporkan kasus infeksi virus yang sama, korban terbanyak, yakni lebih dari 13 ribu kasus, masih berlokasi di Cina.

    CNBC | THESTANDARD


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal yang Dilarang dan Dibatasi Selama Pemberlakuan PSBB Jakarta

    Anies Baswedan memberlakukan rencana PSBB pada 9 April 2020 di DKI Jakarta dalam menghadapi Covid-19. Sejumlah kegiatan yang dilarang dan dibatasi.