Gempa Dalam Laut Jawa dan Flores Masih Aktif, Ini Buktinya

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Beberapa kapal dari tim gabungan Indonesia dan negara lain terlihat di Laut Jawa pada 7 Januari 2015. Upaya pencarian korban dan kotak hitam pesawat terus dilakukan dengan menggunakan berbagai peralatan canggih. Antonio P.Turretto Ramos/USNAVY

    Beberapa kapal dari tim gabungan Indonesia dan negara lain terlihat di Laut Jawa pada 7 Januari 2015. Upaya pencarian korban dan kotak hitam pesawat terus dilakukan dengan menggunakan berbagai peralatan canggih. Antonio P.Turretto Ramos/USNAVY

    TEMPO.CO, Bandung - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG menggolongkan langka untuk gempa berkekuatan 6,3 Magnitudo yang menggetarkan Bangkalan hingga Cilacap, Pacitan dan Kuta pada Kamis dinihari 6 Februari 2020. Gempa terekam berasal dari kedalaman 641 kilometer di Laut Jawa, 76 kilometer arah timur laut Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

    Menurut catatan BMKG, gempa sedalam lebih dari 300 kilometer di Laut Jawa jarang terjadi. Secara tektonik, zona gempa Laut Jawa terletak di zona tumbukan lempeng yang memiliki keunikan tersendiri.

    "Di zona ini Lempeng Indo-Australia menunjam dengan lereng yang menukik curam ke bawah Lempeng Eurasia hingga di kedalaman sekitar 625 kilometer," kata Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, lewat keterangan tertulis Kamis 6 Februari 2020.

    Diterangkannya, gempa ini dipengaruhi gaya tarikan slab lempeng ke arah bawah (slab-pull). Gaya tarikan lempeng ke bawah lebih dominan. Di wilayah Indonesia, gempa dengan sumber dalam seperti itu hanya terjadi di Laut Flores, selain di Laut Jawa.

    BMKG mencatat sejak 2016 ada tujuh kali gempa dalam sebelum Gempa Bangkalan. Diawali pada 24 Agustus 2016 dengan kekuatan 6,1 Magnitudo berpusat di Laut Flores pada kedalaman 537 kilometer. Kemudian19 Oktober 2016, kekuatan 6,3 Magnitudo berpusat di Laut Jawa pada kedalaman 615 kilometer. Pada 5 Desember 2016, kembali terjadi di Laut Flores pada kedalaman 517 kilometer, kekuatannya 6,1 Magnitudo.

    Gempa dalam 6,4 Manitudo terjadi pada 24 Oktober 2017 berpusat di Laut Flores-Banda dengan kedalaman sumber gempa 557 kilometer. Kemudian 23 Juni 2018, gempa 5,3 Magnitudo berpusat di Laut Jawa pada kedalaman 662 kilometer. Lalu lindu pada 7 April 2019, kekuatannya 6,3 Magnitudo 6,3 berpusat di Laut Flores-Banda pada kedalaman 545 kilometer, dan 19 Oktober 2019 magnitudo 6,1 berpusat di Laut Jawa pada kedalaman 623 kilometer.

    Masih aktifnya gempa dalam di Laut Jawa dan Laut Flores, kata Daryono, merupakan bukti bahwa proses subduksi dalam di utara Pulau Jawa dan Kepulauan Sunda Kecil (NTB-NTT) hingga kini masih berlangsung.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.