Apple dan Atur-atur Perfoma Ponsel, Pernah Didenda Rp 367 Miliar

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • CEO Tim Cook memperkenalkan iPhone 11 terbaru di Cupertino, California, AS, 10 September 2019. Pada iPhone 11, Apple menyematkan chipset A13 bionic yang diklaim sebagai chipset untuk smartphone yang paling bertenaga pada saat ini di pasaran. REUTERS/Stephen Lam

    CEO Tim Cook memperkenalkan iPhone 11 terbaru di Cupertino, California, AS, 10 September 2019. Pada iPhone 11, Apple menyematkan chipset A13 bionic yang diklaim sebagai chipset untuk smartphone yang paling bertenaga pada saat ini di pasaran. REUTERS/Stephen Lam

    TEMPO.CO, Jakarta - Produsen smartphone Apple sengaja mempraktikkan teknologi yang memungkinkan kerja produknya jadi melambat setelah usia pemakaian tertentu. Karena tak memberi tahu soal teknologi 'manajeman performa' ini, Apple pernah didenda sebesar US$ 27 juta atau setara Rp 367 miliar di Prancis pada 2017 lalu.

    Seperti ditulis laman BBC, Jumat 7 Februari 2020, denda saat itu diberikan badan pengawas persaingan dan penipuan Prancis. Apple dinilai menyembunyikan informasi adanya teknologi 'manajemen performa' di setiap smartphone buatannya itu dari konsumen. 

    Praktik itu dikonfirmasi setelah seorang pengguna menunjukkan hasil tes performa iPhone 6S dan mendapati smartphone itu seperti disengaja kerjanya melambat secara signifikan justru setelah pembaruan sistem operasi. Namun, tiba-tiba fungsinya kembali seperti semula setelah baterainya diganti.

    Hasil uji itu mengukuhkan kecurigaan banyak pengguna sebelumnya kalau Apple sengaja melakukan itu agar para pengguna langsung memperbarui gadgetnya ketika model terbaru dirilis. Denda lalu diberikan kepada Apple oleh badan pengawas persaingan dan penipuan Prancis disertai perjanjian: Apple harus menampilkan pemberitahuan soal memperlambat sistem operasi itu di situs web berbahasa Prancis selama sebulan.

    Dalam penjelasannya, Apple membenarkan adanya teknologi manajemen yang mengatur soal performa smartphone-nya itu. Tapi menyangkal tuduhan agar para penggunanya segera mengganti dan membeli produk yang terbaru.

    Apple menjelaskan, manajemen kerja ponsel harus dilakukan karena baterai lithium-ion yang menua tidak akan lagi mampu memasok daya yang penuh untuk kebutuhan puncak. Jika itu terjadi, iPhone bisa tiba-tiba mati demi melindungi komponen-komponennya.

    Itulah alasan di balik rilis pembaruan sistem operasi yang banyak dicurigai para penggunanya sebagai praktik curang Apple. Pembaruan sistem operasi, menurut Apple, memiliki teknologi yang mengatur kinerja smartphone mengikuti baterai yang menua sehingga tidak tiba-tiba mati.

    Apple mengaku masih menerapkan praktik itu pada beberapa model ponsel cerdasnya sampai sekarang. Jadi, ketika baterai mulai terdegradasi, manajemen performa itu berjalan. Tapi dipastikannya pula kalau iOS kini menyediakan informasi yang lebih jelas kepada penggunanya saat itu terjadi. 

    "Efek manajemen performa pada model-model yang terbaru mungkin kalah terperhatikan oleh kemajuan desain hardware dan software yang kami tawarkan," kata Apple dalam pernyataannya. 

    Berikut ini beberapa model yang mungkin terjadi pelambatan performa itu,
    iPhone 6, 6 Plus, 6S, 6S Plus
    - iPhone SE
    - iPhone 7 dan 7 Plus 
    - iPhone 8 dan 8 Plus yang menjalankan iOS 12.1 atau lebih tinggi
    - iPhone X yang menjalankan iOS 12.1 atau lebih tinggi
    - iPhone XS, XS Max dan XR yang menjalankan iOS 13.1 atau lebih tinggi.

    BBC | BUSINESS INSIDER


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.