3 Faktor Penyebab Longsor Sisi Tol Cipularang Km 118 versi PVMBG

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto tanah longsor dan kubangan di dua sisi Jalan Tol Cipularang Km 118+600 yang beredar di media sosial baru-baru ini. PT Jasa Marga (Persero) Tbk menyebut gambar berasal dari kejadian pada 11 Februari 2020 dan memastikan telah melakukan perbaikan dan antisipasi setelahnya sehingga jalan tol aman dilalui. Istimewa

    Foto tanah longsor dan kubangan di dua sisi Jalan Tol Cipularang Km 118+600 yang beredar di media sosial baru-baru ini. PT Jasa Marga (Persero) Tbk menyebut gambar berasal dari kejadian pada 11 Februari 2020 dan memastikan telah melakukan perbaikan dan antisipasi setelahnya sehingga jalan tol aman dilalui. Istimewa

    TEMPO.CO, Bandung - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral menemukan tiga faktor penyebab longsor sisi tol Cipularang Km 118. Lembaga itu pun mengeluarkan beberapa rekomendasi agar longsor tidak berlanjut hingga mengancam badan jalan tol, di antaranya mengurangi beban jalan tol itu sementara waktu.

    Kepala PVMBG Kasbani mengatakan kejadian longsor di kampung Desa Sukatani pada Selasa malam sepekan lalu itu terjadi pada perbukitan dengan kemiringan lereng 22-25 derajat. Lebar lereng mahkota longsor 43,73 meter sementara panjang hingga 312 meter. Total luas area terdampak 16.030 meter persegi,” ujarnya lewat keterangan tertulis Senin 17 Februari 2020.

    Laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Barat menyebutkan longsor itu mengakibatkan seorang warga luka ringan. Selain itu enam unit rumah warga rusak berat sementara 80 rumah lainnya yang dihuni 240 orang terancam longsor lanjutan. Longsor juga berdampak pada lahan pertanian sawah seluas sekitar tiga hektare, enam kolam ikan, pipa saluran air bersih sepanjang 1500 meter dan menyebabkan aliran listrik terputus.

    Menurut PVMBG, faktor pertama penyebab longsor itu adalah karakter tanah pelapukan yang tebal dan memiliki porositas atau daya serap air dan permeabilitas atau meloloskan air yang tinggi. Faktor kedua, kemiringan lereng yang curam atau lebih dari 20 derajat, sistem drainase yang tidak berfungsi atau tersumbat, serta tata guna lahan yang berupa lahan basah atau persawahan.

    Selain itu PVMBG juga menyebut genangan air yang berada di utara atau seberang lokasi longsor sebagai faktor penyebab ketiga. Genangan air seluas 4.079 meter persegi itu yang mengakibatkan munculnya mata air atau rembesan baru di badan jalan tol sebelah selatan atau lokasi longsor. ”Itu menjadi pemicu terjadinya gerakan tanah,” kata Kasbani.

    Rembesan dari genangan air itu yang mengakibatkan meningkatnya muka air tanah dan tekanan pori sehingga tahanan lereng menjadi lemah. Kondisi itu membuat kondisi tanah dan batuan menjadi jenuh air sehingga bobot massanya bertambah dan kuat gesernya menurun, tanah tidak stabil dan mudah bergerak.

    Kondisi tanah yang jenuh air memperlihatkan mekanisme pergerakan tanah mulai bergerak pada bagian bawah yang kemudian menarik lereng bagian atasnya,” ujar Kasbani.

    PVMBG berkesimpulan gerakan tanah yang terjadi bertipe longsoran aliran tanah. Daerah itu pun disebutkan masih berpotensi untuk bergerak baik longsoran tipe cepat maupun longsoran tipe lambat berupa rayapan atau nendatan, retakan, dan amblasan jika tidak ada mitigasi non struktural maupun struktural.

    Rekomendasinya, terkait kondisi curah hujan yang masih tinggi, genangan air perlu dikeringkan di daerah longsor. Kemudian membersihkan dan memperbaiki saluran drainase yang tersumbat serta melakukan evaluasi gorong-gorong yang masih berada di atas lembah.

    Selama dilakukan penanganan mitigasi struktural penahan lereng perlu dilakukan pembatasan beban kendaraan di jalan tol,” kata Kasbani.

    Arus lalu lintas di kawasan Tol Cipularang KM 118, Kabupaten Bandung Barat, 16 Februari 2020. ANTARA/HO-Polda Jawa Barat

    Rekomendasi lainnya adalah memperbaiki dan membuat sistem drainase yang kedap air mengikuti alur air pada area persawahan yang berada di hulu hingga bagian permukiman di hilir. PVMBG juga menilai perlu dilakukan penyelidikan geologi teknik atau geoteknik untuk proteksi lereng dengan rekayasa vegetasi atau rekayasa engineering.

    Tubuh jalan tol juga perlu dipantau apakah ada deformasi atau kerusakan sebagai upaya mitigasi dini. Pantauan juga perlu ditujukan ke retakan, rembesan air, mata air baru, mata air lama yang menjadi keruh, pohon atau tiang yang miring, lereng yang menggembung, runtuhan batu kecil dan gejala-gejala awal terjadinya pergerakan tanah.

    Sebelumnya, tim dari Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI) menyatakan sudah juga turun ke lokasi dan mendapati belum ada retakan atau amblesan di jalan tol dampak longsor. Namun mereka juga memperingatkan longsor bisa merambat ke badan jalan jika aliran dari genangan air di seberang lokasi longsor gagal diturunkan muka airnya.

    “Salah satu caranya dengan pemasangan pipa drainase horizontal di lereng sisi arah Jakarta yang menembus ke sisi lereng arah Bandung,” kata Adrin Tohari dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geoteknologi LIPI, Sabtu 15 Februari 2020.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.