Facebook: Tren Belanja Online Dibentuk Masyarakat Kelas Menengah

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Pemasaran untuk Facebook Indonesia Hilda Kitti mempresentasikan studi perlaku dan preferensi kelas menengah membentuk tren belanja di e-commerce dan online di Hermitage Lounge, Jakarta Pusat, Rabu, 19 Februari 2020. TEMPO/Khory

    Kepala Pemasaran untuk Facebook Indonesia Hilda Kitti mempresentasikan studi perlaku dan preferensi kelas menengah membentuk tren belanja di e-commerce dan online di Hermitage Lounge, Jakarta Pusat, Rabu, 19 Februari 2020. TEMPO/Khory

    TEMPO.CO, Jakarta - Studi Facebook dan Bain & Company menyebutkan pilihan yang beragam, akses internet lebih baik, dan tingkat kesejahteraan meningkat akan terus menjadi faktor kunci mendorong aktivitas belanja online di Asia Tenggara. Studi tersebut melihat bagaimana prilaku dan preferensi kelas menengah membentuk tren belanja di e-commerce dan ranah online.

    Kepala Pemasaran untuk Facebook Indonesia Hilda Kitti menerangkan, studi lanjutan dari Emerging Middle Class yang dilakukan pada 2018 itu menunjukkan bagaimana dunia digital memiliki peran penting dalam pertumbuhan bisnis dan ecommerce di Asia Tenggara termasuk Indonesia.

    "Ada banyak cara berbelanja, dan tidak ada orang yang berbelanja dengan cara yang sama dua kali. Kuncinya adalah merancang strategi pada fase pencarian sangat penting, mengingat pelanggan berinteraksi dengan banyak mereka melalui berbagai saluran pada waktu yang sama," ujar Hilda di Hermitage Lounge, Jakarta Pusat, Rabu, 19 Februari 2020.

    Studi mensurvei 12.965 responden di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam, serta mewawancarai lebih dari 30 CEO dan pemodal di wilayah tersebut. Hal ini menunjukkan kelas menengah di Asia Tenggara akan mendominasi 70-80 persen dari pertumbuhan konsumen digital pada 2025.

    Menurut Hilda, Facebook telah hadir mendukung bisnis kecil dan besar, serta industri yang lebih luas melalui investasi dalam hal inovasi produk, solusi, program dan kemitraan untuk meningkatkan kemampuan digital dan mendorong dampak ekonomi di Indonesia.

    "Di Indonesia, 66 persen responden mengatakan, mereka terbuka untuk memilih merek lain atau akan membeli berbagai merek saat berbelanja online," kata Hilda. "Artinya, seluruh skala bisnis, memiliki peluang besar untuk bersaing dalam cakupan yang lebih besar di Asia Tenggara."

    Partner Bain & Company Edy Wijaya menyebutkan, dari 90 juta konsumen digital pada tahun 2015, Asia Tenggara menunjukkan pertumbuhan sebesar 2,8 kali lipat menjadi 250 juta konsumen digital pada tahun 2018. "Pada tahun 2025, akan ada 310 juta konsumen digital di Asia Tenggara," tutur Edy.

    Di Indonesia, angka konsumen digital telah tumbuh pesan dan hal ini mendorong pertumbuhan belanja online. Studi ini menunjukkan bahwa konsumen digital di Indonesia tumbuh dari 64 juta, 34 persen dari total populasi pada tahun 2017 menjadi 102 juta, 53 persen atau setelah dari total populasi pada tahun 2018.

    "Dengan kenaikan angka konsumen digital ini, pertumbuhan belanja online juga diprediksi tumbuh 3,7 kali dari US$ 13,1 miliar pada 2017, menjadi US$ 48,3 di 2025," tambah Edy.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.