Virus Corona: Ilmuwan 9 Negara Bela Kolega di Wuhan, Ada Apa?

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis berpakaian pelindung menangani pasien virus corona Covid 19 baru di unit perawatan intensif (ICU) rumah sakit yang ditunjuk di Wuhan, provinsi Hubei, Cina, 6 Februari 2020. China Daily via REUTERS

    Petugas medis berpakaian pelindung menangani pasien virus corona Covid 19 baru di unit perawatan intensif (ICU) rumah sakit yang ditunjuk di Wuhan, provinsi Hubei, Cina, 6 Februari 2020. China Daily via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekelompok 27 ilmuwan kesehatan masyarakat dari sembilan negara di luar Cina mengecam makalah ilmiah yang menyatakan virus corona COVID-19 kemungkinan menyebar dari laboratorium di Wuhan, Cina. Menuliskan pernyataan di situs online  The Lancet, mereka menyebutnya sebagai disinformasi atau hoax  yang kontraproduktif dalam penanggulangan wabah virus itu.

    "Pembagian data yang cepat, terbuka, dan transparan tentang wabah ini sedang diancam oleh rumor dan informasi yang salah seputar asal-usulnya," bunyi pernyataan itu seperti dikutip Sciencemag.

    Para ilmuwan itu menanggapi banyaknya unggahan  di media sosial yang meminta  laboratorium milik Institut Virologi Wuhan  diawasi superketat.  Spekulasi yang diembuskan adalah virus itu produk rekayasa hayati. Seorang pekerja laboratorium lalu terinfeksi saat menangani kelelawar dan menularkan penyakit ke orang lain di luar laboratorium.

    Senator Amerika Serikat, Tom Cotton, termasuk yang meminta Pemerintah Cina memberi bukti kalau virus tidak berasal dari laboratorium itu.  Cotton  mengaku tak punya bukti atas keterkaitan virus mematikan tersebut dengan laboratorium itu.  "Namun, karena pihak Cina tidak jujur sejak awal, kami perlu setidaknya mengajukan pertanyaan untuk melihat apa yang dikatakan bukti," katanya  kepada Vox News. 

    Para peneliti, dalam surat pernyataan, menegaskan kembali adanya hubungan dekat  virus corona  itu dengan kelelawar liar. "Kami berdiri bersama untuk mengecam keras teori konspirasi yang menyarankan bahwa COVID-19 tidak memiliki asal alami," bunyi pernyataan itu.

    Para penulis  pernyataan  mencatat, para ilmuwan dari beberapa negara yang telah mempelajari SARS menyimpulkan, COVID-19 ini berasal dari satwa liar. Ini juga seperti banyak virus lain yang baru-baru ini muncul pada manusia.

    "Teori konspirasi tidak melakukan apa pun selain menciptakan rasa takut, rumor, dan prasangka yang membahayakan kolaborasi global kita dalam perang melawan virus ini," kata pernyataan itu.

    Peter Daszak, presiden EcoHealth Alliance di New York City, termasuk  penandatangan pernyataan itu. Dia menyatakan telah bekerja sama dengan peneliti di Institut Wuhan yang mempelajari virus corona kelelawar.

    Menurutnya, berada di tengah era informasi media sosial yang salah dan teori konspirasi, memiliki konsekuensi nyata, termasuk ancaman kekerasan yang terjadi pada rekannya di Cina.  "Kami punya pilihan apakah mendukung kolega yang diserang dan diancam setiap hari oleh ahli teori konspirasi atau hanya menutup mata," katanya.

    Daszak, yang juga ahli ekologi penyakit, menambahkan, "Saya bangga bahwa orang-orang dari 9 negara dengan cepat membela mereka dan menunjukkan solidaritas, karena bagaimanapun, kita berhadapan dengan kondisi wabah yang mengerikan."

    SCIENCEMAG | VOX NEWS | SCIENCE INSIDER


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.