Ilmuwan Temukan Salamander Tertua di Siberia, Usia 167 Juta Tahun

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi spesies salamander Egoria malashichevi yang baru ditemukan. Kredit: PA/Standard

    Ilustrasi spesies salamander Egoria malashichevi yang baru ditemukan. Kredit: PA/Standard

    TEMPO.CO, Jakarta - Para ilmuwan telah menemukan salamander tertua di dunia di Siberia. Spesimen amfibi yang penampilannya mirip kadal itu berumur 167 juta tahun.

    Fosil itu ditemukan di kuburan hewan yang disebut tambang Berezovsky, tempat makhluk prasejarah lainnya, termasuk dinosaurus, reptil, ikan, dan mamalia telah ditemukan sebelumnya.

    Ilmuwan menemukan empat tulang punggung fosil salamander kuno yang digali, termasuk bagian atas tulang belakang yang memungkinkan kepalanya bisa mengangguk. 

    “Dikenal sebagai Egoria malashichev, salamander itu kemungkinan berenang bersama makhluk laut lainnya, seperti hiu besar, kadal laut raksasa, dan kalajengking besar,” kata para peneliti, dalam jurnal penelitian yang diterbitkan dalam Plos One, baru-baru ini.

    Menurut penulis utama studi tersebut, Pavel Skutschas, salamander pertama kali muncul dalam catatan fosil di Jurassic Tengah, termasuk perwakilan dari kedua keluarga salamander masa kini dan yang paling primitif.

    "Ketika mereka baru saja muncul, salamander melakukan upaya untuk menempati ceruk ekologi yang berbeda. Adapun salamander yang baru ditemukan itu, ia menempati posisi tengah, meskipun secara morfologis, ia lebih dekat dengan primitif,” ujar Skutschas.

    Skutschas menyebutkan bahwa penemuan itu sangat penting. Dia mencatat hal itu memungkinkan identifikasi spesies baru karena informasi unik yang muncul.

    Salamander lain juga telah ditemukan di lokasi tersebut, termasuk versi panjang 2 kaki yang dikenal sebagai Urupia monstrosa yang hidup sekitar 165 juta tahun yang lalu. Skutschas menunjukkan bahwa Egoria Malashichev dan Urupia monstrosa mungkin mewakili genus yang sama, tapi perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

    "Pada musim semi mendatang, kolega kami dari Inggris akan datang ke St. Petersburg untuk mempelajari materi penelitian kami," tutur Skutschas. "Kami mungkin menemukan bahwa Urupia dan Egoria dulu memiliki habitat yang sangat luas, membentang di seluruh Eropa dan Asia."

    PLOS ONE | FOX NEWS


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lakon DPR, Jokowi, dan MK dalam Riwayat Akhir Kisah KPK

    Pada 4 Mei 2021, Mahkamah Konstitusi menolak uji formil UU KPK. Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden Jokowi juga punya andil dalam pelemahan komisi.