Arsitektur Jurusan Terfavorit di ITB saat SNMPTN 2019, Rasio 1:33

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Instalasi bambu berjudul Script of Tectonic karya tim program studi Arsitektur ITB di pameran arsitektural Indonesialand di Selasar Sunaryo Art Space Bandung, 2 September-2 Oktober 2016. TEMPO/ANWAR SISWADI

    Instalasi bambu berjudul Script of Tectonic karya tim program studi Arsitektur ITB di pameran arsitektural Indonesialand di Selasar Sunaryo Art Space Bandung, 2 September-2 Oktober 2016. TEMPO/ANWAR SISWADI

    TEMPO.CO, Bandung - Institut Teknologi Bandung (ITB) biasanya punya beberapa jurusan dengan jumlah peminat tinggi. Dari kajian rektoratnya pada penerimaan mahasiswa baru 2019 lalu, jurusan arsitektur menjadi yang terfavorit dan paling ketat persaingannya untuk bisa lolos diterima.

    “Berdasarkan data 2019 keketatan tertinggi ada di Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) Ganeshasekitar 1:33,” kata Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB Jaka Sembiring.

    Perbandingan itu berarti satu kursi di jurusan itu diperebutkan 33 siswa peminat. Sebagai gambaran, pada 2019, jumlah pendaftarnya via jalur SNMPTN sebanyak 960 orang sementara daya tampungnya hanya 73 kursi di kampus Bandung.

    Sementara di kampus Cirebon 20 kursinya diperebutkan 151 pendaftar. Atau, 1:7,5

    Adapun lewat jalur SBMPTN 2019, peminat SAPPK ITB kampus Bandung berjumlah 624 siswa dengan daya tampung 60 kursi. Di kampus Cirebon 13 kursi dengan 147 peminat.

    Selain itu ITB biasanya punya jurusan favorit langganan seperti Fakultas Teknologi Industri, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, serta Sekolah Teknik Elektro dan Informatika.

    Menurut Jaka, masyarakat sepertinya memiliki penilaian tersendiri soal jurusan yang diminati. Dari pengamatan ITB, setiap tahun minat terbesar selalu berubah.

    ITB sendiri, Jaka menambahkan, tidak memperlakukan khusus jurusan favorit. “Tidak membedakan, seluruh program studi harus berada pada tingkat kualitas tertentu,” ujarnya.

    Yang pasti, dia menyatakan, banyak peminat tidak serta merta membuat ITB menambah daya tampung. Alasannya untuk menjaga keseimbangan antara kualitas dan kuantitas.

    Terkait dengan kebutuhan pasar atau dunia kerja ITB melakukan tracer study sejak beberapa tahun lalu. “Serapan terhadap lulusan lebih dari 90 persen termasuk yang melanjutkan studi,” ujarnya.

    Rata-rata angka kisaran lulusan ITB yang bekerja sebanyak 68 persen, wiraswasta dan startup sekitar 14 persen, dan yang lanjut studi 12 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.