Dana Riset Obat Terbesar, Menristek: Ada Penelitian Virus Corona

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro dan acara Penguman Pendanaan Penelitian PTN-BH dan Penandatanganan Kontrak Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Tahun 2020 di Hotel Atlet Century, Jakarta Pusat, Rabu, 26 Februari 2020. TEMPO/Khory

    Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro dan acara Penguman Pendanaan Penelitian PTN-BH dan Penandatanganan Kontrak Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Tahun 2020 di Hotel Atlet Century, Jakarta Pusat, Rabu, 26 Februari 2020. TEMPO/Khory

    TEMPO.CO, Jakarta - Dari dana penelitian untuk perguruan tinggi badan hukum (PTN-BH) 2020 senilai Rp 514,2 miliar, dialokasikan terbesar untuk riset kesehatan dan obat.

    Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro menjelaskan sudah ada pembicaraan dan penelitian di Indonesia untuk mengatasi virus corona COVID-19.

    Setelah mengumumkan dana riset untuk PTN-BH dan penandatangan kontrak penelitian dan pengabdian masyarakat, Bambang berujar, Lembaga Molekular Biologi Eijkman sedang dalam pembicaraan dengan PT Bio Farma untuk memproduksi vaksin yang menjaga kekebalan tubuh terhadap virus corona.

    "Di samping itu juga dilakukan riset terhadap salah satu biodiversiti kita namanya curcumin sebagai obat potensial untuk bisa mencegah atau mengobati corona," kata dia di Hotel Atlet Century, Rabu, 26 Februari 2020.

    Dana penelitian untuk PTN-BH itu diberikan kepada 11 perguruan tinggi berdasarkan hasil penilaian kinerja penelitiannya, dan akan digunakan untuk sepuluh bidang. Penelitian kesehatan dan obat mendapat porsi terbesar yakni 31 persen. Penelitian sosial humaniora serta pangan dan pertanian menjadi penerima kedua dan ketiga terbesar, yakni 19 dan 15 persen.

    Setelah ketiganya, prioritas berikutnya adalah material maju 11 persen, energi dan energi terbarukan 7 persen, teknologi informasi dan komunikasi 5 persen, kebencanaan 5 persen, pertahanan dan keamanan 3 persen, kemaritiman 3 persen, dan transportasi 2 persen.

    Tapi, Bambang menerangkan, mengenai virus corona itu tentunya membutuhkan penelitian lebih lanjut dan yang paling penting upaya ini sudah dimulai. "Kita harus terus melakukan upaya penelitian sehingga kita lebih antisipatif menghadapi berbagai kemungkinan penyakit atau wabah yang kemungkinan terjadi di masa yang akan datang," ujar Bambang.

    Sementara, Peneliti Senior Lembaga Biologi Molekuler Eijkman David H. Muljono, dalam acara Seminar Awam bertajuk ‘Menyikapi Virus Corona 2019-nCoV: dari Lembaga Eijkmam untuk Indonesia’ di Auditorium Sitoplasma, Lembaga Eijkman, Jakarta Pusat, Eijkman beberapa lalu mengakui Eijkman telah melakukan pembahasan awal dengan PT Bio Farma. "Untuk mengembangkan vaksin untuk melawan COVID-19," katanya saat itu.

    Menurut Head of Corporat Communication Bio Farma, Iwan Setiawan, Bio Farma sudah memiliki kemampuan mengembangkan vaksin. “Secara teknologi kami sudah terbiasa dengan virus,” kata dia saat dihubungi Tempo, beberapa waktu lalu.

    Iwan mengatakan, produksi vaksin membutuhkan 'bibit' virus yang dilemahkan. Bibit virus itu belum tersedia untuk kasus virus corona yang saat ini sedang mewabah dari Wuhan, Cina. Iwan mengatakan, hingga saat ini belum ada negara yang bisa memproduksi vaksin corona Wuhan. "Kami harus ada seed-nya, itu biasanya dari WHO," kata dia. "Ini kan outbreak, baru."

    Sedangkan untuk penelitian curcumin dilakukan oleh Guru Besar Biokimia dan Biologi Molekuler Universitas Airlangga Chaerul Anwar Nidom. "Penelitian curcumin yang berasal dari empon-empon, terdiri dari jahe-jahean, kunyit, temulawak, sereh, dan lain-lain akan dilakukan oleh para peneliti di Professor Nidom Foundation (PNF)," tutur dia saat dihubungi Rabu malam kemarin.

    Nidom yang saat ini sebagai Ketua Tim Riset CoV & Formulasi Vaksin di PNF mengatakan, saat ini dia dan tim sudah membuat dua formulasi yang sedang menunggu uji-preklinik. "Mudah-mudahan segera akan ditemukan formulasi berikutnya," kata Nidom.

    Formulasi-formulasi tersebut akan ditujukan untuk penyakit-penyakit yang spesifik, misalnya untuk penyakit flu termasuk Flu Burung, COVID-19, Malaria, dan lain-lain. Nidom menganjurkan agar masyarakat tetap mengkonsumsi minuman dan makanan sebagaimana biasa dilakukan. "Sejauh ini, PNF belum kontak dengan institusi manapun. Platform riset ini sebetulnya sudah pernah kami lakukan terhadap virus atau infeksi flu burung beberapa tahun lalu," ujar Nidom.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal yang Dilarang dan Dibatasi Selama Pemberlakuan PSBB Jakarta

    Anies Baswedan memberlakukan rencana PSBB pada 9 April 2020 di DKI Jakarta dalam menghadapi Covid-19. Sejumlah kegiatan yang dilarang dan dibatasi.