Ini Alasan Jasad Pasien Negatif Virus Corona Dibungkus Rapat

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah tim medis mengevakuasi seorang pasien menuju Ruang Isolasi Khusus Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Kariadi saat simulasi penanganan wabah virus novel Coronavirus (nCoV) di Semarang, Jawa Tengah, Kamis, 30 Januari 2020. Berbagai simulasi penanganan yang dilakukan oleh RSUP Kariadi bersama Dinas Kesehatan Pemprov Jateng. ANTARA

    Sejumlah tim medis mengevakuasi seorang pasien menuju Ruang Isolasi Khusus Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Kariadi saat simulasi penanganan wabah virus novel Coronavirus (nCoV) di Semarang, Jawa Tengah, Kamis, 30 Januari 2020. Berbagai simulasi penanganan yang dilakukan oleh RSUP Kariadi bersama Dinas Kesehatan Pemprov Jateng. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Lembaga Biologi Mokuler Eijkman, Amin Subandrio, menerangkan alasan kenapa jenazah pasien terduga virus corona COVID-19 di Semarang harus dibungkus dengan rapat. Amin menyebutkan, menurut keterangan Kementerian Kesehatan, pasien meninggal disebabkan karena virus H1N1 atau flu babi.

    Virus itu dijelaskannya pernah menyebabkan pandemi pada 2009. "Kalau H1N1 penyebab influenza biasa. Tapi yang sudah diketahui (pasien terduga terinfeksi COVID-19) betul H1N1 2009, jadi memang harus diperlakukan seperti itu supaya tidak menyebar," ujar Amin menerangkan lewat sambungan telepon, Jumat 28 Februari 2020.

    Sebelumnya, seorang pasien yang menjalani perawatan isolasi di RSUP dr Kariadi Kota Semarang, Jawa Tengah, akhirnya meninggal. Pasien suspek virus corona COVID-19 itu meninggal di ruang isolasi pada Minggu 23 Februari 2020. Perlakuan yang kemudian diberikan kepada jasadnya viral di media sosial.

    Sebelumnya, pasien tersebut mengeluhkan gangguan pernapasan berat. Pasien berjenis kelamin laki-laki dan berumur 37 tahun itu juga memiliki riwayat perjalanan dari luar negeri yaitu baru kembali Spanyol dan transit di Dubai, Uni Emirat Arab.

    "Jumlah korban meninggal maupun sakit saat virus H1N1 menyerang Amerika itu lebih banyak daripada saat ini dengan COVID-19," kata Amin yang juga profesor mikrobiologi klinis di Universitas Indonesia itu.

    Kepala Bidang Pelayanan Medis RSUP dr Kariadi, Nurdopo Baskoro, menjelaskan pasien itu berobat di RSUP dr Kariadi pada Rabu, 19 Februari 2020. Pasien lantas mendapat perawatan di ruang isolasi ICU. "Kami perlakukan kewaspadaan tinggi. Seperti pasien dengan emerging disease," kata dia, Selasa 25 Februari 2020.

    Nurdopo mengatakan rumah sakit sudah mengirimkan sampel darah pasien ke Badan Penilitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan di Jakarta. Namun, Hasil lab tersebut baru keluar pada Senin, 24 Februari 2020, sehari setelah pasien meninggal. Hasilnya pasien negatif COVID-19 atau virus corona baru yang menyebar dari Wuhan, Cina.

    Setelah meninggal, pasien langsung dimakamkan. Menurut dia, jasad dibungkus rapat sesuai prosedur penyakit yang sedang mewabah. "Karena saat meninggal belum ada kepastian penyebab, diperlukan kewaspadaan tinggi," kata Baskoro. Pasien itu dibersihkan di ruang ICU RSUP dr Kariadi kemudian dibungkus rapat menggunakan peti.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal yang Dilarang dan Dibatasi Selama Pemberlakuan PSBB Jakarta

    Anies Baswedan memberlakukan rencana PSBB pada 9 April 2020 di DKI Jakarta dalam menghadapi Covid-19. Sejumlah kegiatan yang dilarang dan dibatasi.