Banjir Besar Rendam Jatinangor Setelah Sepuluh Tahun

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi membantu warga mendorong sepeda motornya menembus banjir yang merendam Jalan Raya Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 1 November 2016. Akibat banjir, seluruh arus kendaraan selepas gerbang tol Cileunyi dan dari arah Cibiru dialihkan melalui Jatinangor dan Parakanmuncang, Sumedang. TEMPO/Prima Mulia

    Polisi membantu warga mendorong sepeda motornya menembus banjir yang merendam Jalan Raya Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 1 November 2016. Akibat banjir, seluruh arus kendaraan selepas gerbang tol Cileunyi dan dari arah Cibiru dialihkan melalui Jatinangor dan Parakanmuncang, Sumedang. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Bandung - Ragam bencana hidrometeorologi terjadi di berbagai daerah di Jawa Barat, sepanjang Jumat 28 Februari 2020. Di antaranya adalah banjir besar yang merendam sebagian wilayah Jatinangor, Kabupaten Sumedang. “Sebelumnya pernah terjadi 2010,” kata Kepala Desa Sayang Kecamatan Jatinangor Dodi Kurnaedi saat dihubungi, Sabtu 29 Febaruari 2020.

    Banjir besar itu terjadi Jumat petang 28 Februari 2020. Waktunya menurut Dodi dari sekitar pukul 18.00. “Baru surut sekitar jam satu pagi (Sabtu) dinihari tadi,” katanya.

    Penyebab banjir besar itu menurutnya luapan Sungai Cikeruh setelah debit dari hulu di daerah Tanjungsari, Sumedang, melonjak. Hasilnya, banjir merendam empat desa selama lebih dari enam jam. Keempatnya adalah Desa Sayang setinggi 100 sentimeter, Desa Cikeruh (70 cm), Desa Hegarmanah (50 cm), dan Desa Cipacing (30 – 40 cm).

    Dodi mengatakan tidak ada warganya yang pindah ke tempat pengungsian khusus. “Beberapa ke rumah tetangga saja sampai air surut,” ujarnya.

    Jatinangor diperuntukkan sebagai kawasan pendidikan. Beberapa perguruan tinggi negeri seperti Universitas Padjadjaran dan Institut Teknologi Bandung (ITB) berlokasi di sana beserta perumahan indekos para mahasiswanya.

    Dodi mengabarkan, bukan kawasan indekos mahasiswa yang banyak terendam banjir. “Mahasiswa banyak yang bantu warga,” ujarnya.

    Kini, bersama warga dan petugas, mereka ikut membersihkan lumpur dan sampah sisa banjir. Akses jalan raya yang sempat putus akibat terendam banjir, kata Dodi, kini telah normal kembali untuk dilintasi kendaraan.

    Selain di Jatinangor, menurut laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat, banjir juga menyergap 40 keluarga atau 144 jiwa di Dusun Gunung Tanjung Desa Sindangpakuon, Kecamatan Cimanggung Kabupaten Sumedang, Jumat malam. Banjir setinggi 10-60 sentimeter itu juga menggenani akses Jalan Parakanmuncang – Cicalengka.

    Adapun Jumat paginya, terjadi longsor di Kampung Palasari Desa Santanamekar Kecamatan Cisayong Kabupaten Tasikmalaya. Panjang tebing sekitar 100 meter longsor setinggi 50-an meter. Seorang warga berusia 65 tahun meninggal dan delapan unit rumah lainnya terancam longsoran.

    Akses jalan ke dua desa yaitu Santanamekar dan Desa Indrajaya Kecamatan Sukaratu terputus. Longsor setelah hujan deras sejak sore hingga malam hari sebelumnya itu membuat 80 keluarga atau 250 jiwa terisolir. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.