Virus Corona, Menteri Terawan: Tak Perlu Takut dan Paranoid

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto saat menyambangi kantor Huawei di Gedung BRI II, Jakarta, Kamis, 22 Januari 2020. Kedatangannya Terawan juga guna memastikan bahwa isu tersebut tidak benar dan tidak ada Virus Corona di gedung BRI. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto saat menyambangi kantor Huawei di Gedung BRI II, Jakarta, Kamis, 22 Januari 2020. Kedatangannya Terawan juga guna memastikan bahwa isu tersebut tidak benar dan tidak ada Virus Corona di gedung BRI. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Malang - Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, mengatakan masyarakat Indonesia tidak perlu takut yang berlebihan atau paranoid menghadapi penyebaran virus corona COVID-19. Ketakutan seperti itu disebutnya hanya akan memunculkan inefisiensi dalam pengambilan kebijakan oleh pemerintah.

    Itu sebabnya dia meminta masyarakat tetap tenang. "Yang penting sekali, rasionalitas harus kita galakkan. Makin tidak rasional, makin akan membuat negara seolah-olah tidak berdaya," kata Terawan saat memberi kuliah umum Ketahanan Kesehatan Nasional, di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Jumat 28 Februari 2020.

    Terawan mengeluarkan pernyataannya itu di antara keraguan yang berkembang atas kemampuan pemerintah Indonesia mendeteksi virus corona. Hingga Jumat, Indonesia masih mencatat nihil kasus infeksi dan sejumlah spesimen dari para pasien terduga dinyatakan seluruhnya negatif.

    Keraguan di antaranya datang setelah seorang pria tua asal Jepang dinyatakan positif terinfeksi virus yang sedang mewabah di Cina tersebut, sekembalinya dia di negerinya usai berlibur bersama keluarga di Bali. Terbaru, Indonesia masuk daftar negara yang jemaahnya ditangguhkan ibadah umrahnya di Arab Saudi oleh pemerintah negara setempat gara-gara virus corona.

    "Sekarang ada Covid-19, yang saat ini menjadi masalah dan selalu dibicarakan setiap hari. Tapi, tidak perlu takut, karena menghadapi hal seperti ini tidak perlu takut dan paranoid," kata Terawan, 

    Dia lalu mencontohkan penggunaan masker. Dia menghitung, ada pengeluaran sebesar Rp 4 triliun jika setiap 200 juta penduduk Indonesia membeli dan mengenakan masker selama sepuluh hari saja. "Dengan biaya tersebut, itu bisa membangun infrastruktur," ujar Terawan.

    Terawan menegaskan, berdasarkan informasi yang ia terima dari World Health Organization (WHO), penggunaan masker diperuntukkan hanya bagi orang-orang yang sudah positif terinfeksi COVID-19. Sementara untuk orang sehat, tidak perlu mempergunakan, selama tidak ada orang yang sakit di sekitarnya.

    "Dari masker saja itu berapa triliun (pengeluaran)? Kita ikuti saja tata cara WHO, mereka mengatakan, yang sakit yang pakai. Yang sehat tidak perlu. Itu dari WHO, bukan saya mengarang sendiri," kata Terawan.

    Seperti diketahui, setelah terdeteksi pada Desember lalu, wabah virus corona baru dari Wuhan, Cina, belum terbendung. Lebih dari 2.800 orang meninggal dan di Cina saja. Pun dengan lebih dari 83 ribu kasus infeksinya. 

    Setidaknya, ada 50 negara yang telah melaporkan temuan kasus infeksi virus corona COVID-19 tersebut, termasuk beberapa negara tetangga dekat Indonesia. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.