Modifikasi Cuaca Atasi Banjir Jakarta: 60 Hari, 20 M, Hasilnya?

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah personel TNI AU memasang penampung garam atau consul pada Pesawat CN 295 dalam Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di  Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat, 3 Januari 2020. Curah hujan tinggi saat tahun baru lalu, membuat banjir dan longsor di wilayah Jabodetabek. ANTARA/Aprillio Akbar

    Sejumlah personel TNI AU memasang penampung garam atau consul pada Pesawat CN 295 dalam Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat, 3 Januari 2020. Curah hujan tinggi saat tahun baru lalu, membuat banjir dan longsor di wilayah Jabodetabek. ANTARA/Aprillio Akbar

    TEMPO.CO, Jakarta - Upaya penanggulangan banjir Jakarta lewat modifikasi cuaca telah diakhiri Senin 2 Maret 2020. Total 60 hari operasi modifikasi cuaca hujan ekstrem itu dijalankan sejak 3 Januari lalu, pasca hujan ekstrem di hari pertama tahun ini, dengan nilai anggaran sebesar sekitar Rp 20 miliar. 

    Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Tri Handoko Seto, membenarkan berakhirnya operasi itu saat dihubungi, Rabu 3 Maret 2020. Dia tidak memberi keterangan detil selain mengatakan, "Resource-nya digeser ke Riau untuk persiapan TMC karhutla (kebakaran hutan dan lahan) di Riau."

    Dalam wawancara di kantornya di kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Serpong, Tangerang Selatan, pada Rabu 26 Februari lalu, Seto mengklaim modifikasi cuaca yang dilakukan mampu mengurangi intensitas hujan hingga 40 persen hingga hari ke-45 operasi lalu. Tapi tidak untuk 10-20 hari terakhir. Gara-garanya, awan yang menciptakan hujan ekstrem tumbuh dan terbentuk justru pada malam hingga dinihari.

    Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BBTMC-BPPT), Tri Handoko Seto, di kantornya di Kawasan Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan, Rabu 26 Februari 2020. Dia menjelaskan tentang 60 hari operasi modifikasi cuaca hujan ekstrem demi mengatasi banjir Jakarta. TEMPO/WURAGIL

    Seto menerangkan, TMC-BPPT dan timnya yang melibatkan di antaranya BMKG dan TNI AU tak memiliki kemampuan untuk terbang malam. Akibatnya, tak ada yang bisa dilakukan melihat potensi hujan ekstrem pada malam hingga dinihari itu. Banjir pun tak terelakkan berulang Jakarta dan sekitarnya pada periode itu.

    Di ujung periode 60 hari, tim TMC-BPPT sempat mengerahkan teknik flare menambah teknik semai garam yang selama ini berjalan--sekalipun tak membantu untuk mengatasi hujan malam dan dinihari. Teknik flare memungkinkan tim membidik awan-awan langsung di atas Jakarta. Materi yang digunakan sebagai bahan semai adalah Kalsium Klorida dan Agium Iodida yang bisa memperlambat proses pembentukan hujan dan bahkan membuyarkan awan-awan itu selama mereka masih berada di atas ibu kota.

    Teknik itu berlawanan dengan semai garam Natrium Klorida yang bertujuan mempercepat jatuhnya hujan. Karenanya, teknik ini mengincar awan-awan di atas Laut Jawa yang bergerak menuju Jabodetabek.

    Sepanjang 60 hari operasi modifikasi cuaca penanggulangan banjir Jakarta akibat hujan ekstrem itu diperkirakan telah menelan biaya lebih dari Rp 20 miliar. Seto menyatakan anggaran berasal dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB. “Kami tidak berkomunikasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta soal anggaran ini,” katanya saat itu.  

    Seto menerangkan, anggaran operasi modifikasi cuaca di antaranya untuk membiayai pengoperasian pesawat, bahan bakarnya, serta material atau bahan semai yang digunakan. Dia menjelaskan, armada pesawat yang digunakan operasi adalah dua milik TNI dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah dan satu milik BPPT yang dari Bandara Curug Tangerang yang belakangan bergabung untuk teknik flare.

            


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.