Ini Manfaat Hari Tanpa Bayangan Selain Kalahkan Shikamaru Nara

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bayangan penyandang disabilitas saat melintas menggunakan kursi roda usai memarkirkan kendaraan khusus miliknya pada saat peresmian area parkir khusus kendaraan penyandang disabilitas di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, Kamis, 22 Februari 2020. Fasilitas area parkir tersebut dibuat guna memudahkan penyandang disabilitas memarkirkan kendaraan khususnya sebelum beralih ke moda transportasi umum lainnya, salah satunya moda transportasi Mass Rapid Transit (MRT). TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Bayangan penyandang disabilitas saat melintas menggunakan kursi roda usai memarkirkan kendaraan khusus miliknya pada saat peresmian area parkir khusus kendaraan penyandang disabilitas di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, Kamis, 22 Februari 2020. Fasilitas area parkir tersebut dibuat guna memudahkan penyandang disabilitas memarkirkan kendaraan khususnya sebelum beralih ke moda transportasi umum lainnya, salah satunya moda transportasi Mass Rapid Transit (MRT). TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Bandung - Peristiwa hari tanpa bayangan sedang bergulir di wilayah Indonesia, tepatnya sejak 21 Februari hingga 4 April 2020 nanti. Fenomena hari itu ternyata bukan cuma bermanfaat untuk keseruan mengalahkan jurus bayangan Shikamaru Nara dalam serial Naruto.

    Anggota komunitas astronomi Langit Selatan Bandung, Aldino Adry Baskoro, mengungkapkan kalau hari tanpa bayangan juga bisa digunakan untuk mengukur keliling bumi. Tanpa harus benar-benar keliling bumi.

    Alat untuk mengukurnya pun sangat sederhana yaitu hanya sebatang tongkat yang ditancapkan ke tanah. "Ditambah sedikit imajinasi, pengukur lalu menghitung jarak lingkaran bumi dengan persamaan matematika dasar," katanya, Jumat 6 Maret 2020.

    Menurut Aldino, penemu metode itu adalah Eratosthenes. Ilmuwan kelahiran Libya yang hidup antara 276-196 Sebelum Masehi ini merupakan pengelola Perpustakaan Besar Alexandria di Mesir. Pengukuran diameter bumi ala Eratosthenes dinilainya menjadi sebuah warisan luar biasa bagi dunia astronomi.

    Beberapa asumsinya dalam melakukan pengukuran ini adalah bentuk Bumi seperti bola yang sempurna. Kemudian sinar matahari yang datang ke dua kota arah sinarnya sama-sama sejajar, serta jarak dua kota berada pada satu garis bujur yang sama.

    Kini, menurut lulusan Astronomi ITB itu, ide pengukuran Eratosthenes digunakan sebagai cara belajar. Dia pernah mempraktikannya bersama para siswa ketika terjadi musim hari tanpa bayangan di Indonesia yang waktunya dua kali dalam setahun.

    Dari metode Eratosthenes itu yang perlu ditentukan dulu adalah tempat spesial hari tanpa bayangan. “Kalau di Indonesia, tempat spesial itu di garis katulistiwa,” kata Aldino.Beber apa tempat yang dilintasi garis ekuator itu diantaranya Bonjol, sebuah kota kecamatan di Pasaman, Sumatera Barat, juga Pontianak, Kalimantan Barat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.