Top 3 Tekno Berita Hari Ini: Virus Corona Indonesia dan Singapura

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jalanan Singapura yang lengang. Pariwisata di Singapura menurun akibat virus corona. Foto: Roslan Rahman/AFP via Getty Images

    Jalanan Singapura yang lengang. Pariwisata di Singapura menurun akibat virus corona. Foto: Roslan Rahman/AFP via Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Top 3 Tekno berita hari ini dimulai dari topik tentang Anggota Tim Penanganan Kesiagaan COVID-19 di Rumah Sakit dr. Soebandi Jember, Angga Mardro Raharjo, yang meyakini bahwa iklim tropis melindungi negara seperti Indonesia dari ancaman wabah virus corona. Menurutnya, beberapa virus akan mati setelah terpapar sinar matahari langsung, termasuk virus corona COVID-19.

    Berita terpopuler selanjutnya mengenai warga Cidahu, Sukabumi, Jawa Barat, yang sempat dibuat heboh dengan suara gemuruh pada Selasa malam, 10 Maret 2020. Kala itu baru saja terjadi gempa bumi berkekuatan 5,1 M pada sore harinya.

    Lainnya, penanganan kasus virus corona di Hong Kong dan Singapura. Keduanya dipuji karena mampu berderak cepat dan massif lewat pemeriksaan sejumlah besar orang dan isolasi-isolasi sehingga kini tak banyak menuai kasus infeksi sekalipun termasuk yang pertama terpapar virus itu pasca epidemi di Cina.

    Berikut tiga berita terpopuler di kanal Tekno sepanjang hari ini, Jumat 13 Maret 2020.


    1. Para Dokter Percaya Cuaca Indonesia Tak Ramah Virus Corona

    Anggota Tim Penanganan Kesiagaan COVID-19 di Rumah Sakit dr. Soebandi Jember, Angga Mardro Raharjo, meminta masyarakat setempat tidak berlebihan merespons penyebaran virus corona COVID-19. Menurutnya, di negara beriklim tropis seperti Indonesia beberapa virus akan mati setelah terpapar sinar matahari langsung.

    “Termasuk COVID-19 yang tidak tahan terhadap sinar matahari. Mungkin ini jawaban dari mengapa di Indonesia kasus penyebaran virus COVID-19 relatif sangat kecil jika dibandingkan dengan negara Cina, Korea Selatan, apa lagi Italia,” ujar Agga yang juga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Jember.

    Angga justru meminta agar masyarakat mulai membiasakan diri menerapkan pola hidup sehat. Terutama dalam menjaga kebersihan tangan dengan lebih sering melakukan cuci tangan setelah melakukan aktivitas luar ruangan.

    2. Panik Gemuruh Usai Gempa Guncang Sukabumi, Ternyata ...

    Warga Cidahu, Sukabumi, Jawa Barat, sempat dibuat heboh dengan suara gemuruh yang terdengar pada Selasa malam, 10 Maret 2020. Kala itu baru saja terjadi gempa bumi berkekuatan 5,1 M pada sore harinya--gempa darat terukur terkuat di Jawa Barat selama hampir dua dekade yang menyebabkan sedikitnya 52 rumah rontok ke Bumi.

    Camat Cidahu, Erry Erstanto, membenarkan menerima aduan dari warganya mengenai suara gemuruh itu. Warga di lereng Gunung Salak itu merasa tercekam terutama setelah menyaksikan gempa telah membuat puluhan rumah roboh. 

    Belakangan diketahui gemuruh berasal dari pembuangan di pipa gas milik PT Star Energy. Erry mengaku telah meminta konfirmasi langsung ke perusahaan tersebut. Gas sengaja dibuang untuk distabilkan pasca terjadi gempa. "Suara berasal dari pembuangan gas dari pipa. Jadi masyarakat diharapkan tenang," kata Erry, Rabu pagi 11 Maret 2020.

    3. Wabah Virus Corona, Begini Singapura dan Hong Kong Dipuji

    Per Kamis 12 Maret 2020, jumlah kasus infeksi virus corona baru COVID-19 di Hong Kong dan Singapura terhitung tak lebih dari 200 orang. Padahal keduanya termasuk yang lebih awal terpapar sejak epidemi virus itu dilaporkan terjadi di Cina (daratan) akhir Desember lalu.

    Per hari yang sama, jumlah kasus di Prancis, Jerman, dan Spanyol secara keseluruhan telah mencapai sepuluh kali lipatnya. Italia lebih parah. Tiga pekan lalu hanya ada tiga kasus infeksi COVID-19 di negeri pizza itu, tapi sekarang sudah lebih dari 10 ribu.

    Mike Ryan, Ketua Tim Darurat di Badan Kesehatan Dunia (WHO), menyebut perbedaan dramatis antara Hong Kong dan Singapura dengan negara lainnya itu menunjukkan bagaimana setiap pemerintahan negara-negara itu merespons virus corona jenis baru tersebut. "Berharap saja itu bukanlah sebuah strategi karena saat ini kita masih di puncak epidemi," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Silang Pendapat tentang RUU PKS

    Fraksi-fraksi di DPR berbeda pendapat dalam menyikapi Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual atau RUU PKS. Dianggap rumit.