Kenapa Anak-anak Kebal Efek Mematikan SARS, MERS, dan COVID-19?

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pegawai sekolah melakukan pengecekan suhu badan siswa dengan thermometer sebagai upaya pencegahan virus Corona atau Covid-19 di Sekolah Tunas Global, Depok, Jawa Barat, Selasa, 3 Maret 2020. Kegiatan tersebut sebagai upaya penyuluhan penyebab, gejala dan langkah pencegahan virus Corona atau Covid-19 bagi siswa. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Pegawai sekolah melakukan pengecekan suhu badan siswa dengan thermometer sebagai upaya pencegahan virus Corona atau Covid-19 di Sekolah Tunas Global, Depok, Jawa Barat, Selasa, 3 Maret 2020. Kegiatan tersebut sebagai upaya penyuluhan penyebab, gejala dan langkah pencegahan virus Corona atau Covid-19 bagi siswa. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejauh ini tidak ada anak-anak yang sakit parah, apalagi meninggal, akibat penyakit virus corona 2019 atau COVID-19. Studi terhadap 44.672 pasien infeksi virus itu mendapati kalau jumlah anak-anak tak sampai satu persen, dan nol persen untuk 1.023 kematian yang terjadi.

    "Penyakit ini ternyata tidak seperti flu," ujar Akiko Iwasaki di Yale University, Amerika Serikat. Kalau flu, Iwasaki menerangkan, anak-anak dan orang tua yang biasanya terserang paling parah. 

    Lalu kenapa virus corona jenis baru ini berbeda? Yang bisa langsung di jelaskan adalah sifat anak-anak yang bisa tahan infeksi pertama yang menyerang kekebalan tubuhnya. Tapi para peneliti merasa bukan itu jawabannya karena sebuah studi menemukan anak-anak sama seperti orang dewasa yang bisa terinfeksi COVID-19 setiap saat. 

    Hanya, di banyak kasus, anak-anak yang terinfeksi tersebut tetap saja tidak sakit apalagi meninggal. Tren serupa terlihat saat wabah SARS atau MERS merebak, dua penyakit parah lainnya yang disebabkan virus corona. Jadi, apa yang sebenarnya melindungi anak-anak itu? 

     

    "Belum ada yang punya jawabannya," kata Iwasaki. Tapi dia dan para peneliti lain menduganya terkait dengan keunikan sistem imun tubuh anak dalam merespons virus-virus tersebut.

     

    Komplikasi yang umum terjadi dalam kasus infeksi COVID-19, SARS maupun MERS pada orang dewasa adalah apa yang disebut acute respiratory distress syndrome. Ini adalah kondisi di mana sistem pertahanan tubuh bereaksi berlebihan merespons kehadiran virus-virus itu yang malah menyebabkan kerusakan paru-paru. 

     

    Chris van Tulleken dari University College London mengatakan, reaksi itu menyebabkan paru-paru banjir air dan sel-sel imun. "Bahkan jika respons imun mencoba menolong dengan menyerang virus, mereka hanya akan berakhir mengeblok pengambilan oksigen di paru-paru," katanya. 

    Menurut Chris, anak-anak mungkin menimba manfaat dari minimnya riwayat paparan virus corona secara umum. Karena mereka sudah hidup lebih lama, orang dewasa cenderung lebih sering menghadapi infeksi virus corona sepanjang hidupnya, seperti yang menyebabkan batuk atau flu.

    Sedang sistem imun anak-anak masih berkembang, sehingga diduga mereka terlindungi dari tipe respons imun yang berbahaya itu--dikenal dengan istilah badai sitokin. Saat wabah SARS, dua studi menemukan anak-anak memproduksi sitokin penyebab peradangan dalam jumlah yang rendah, yang diduga melindungi paru-paru anak dari kerusakan serius saat terinfeksi COVID-19 atau penyakit serupa. 

    Namun itu belum menjelaskan kenapa sistem imun anak-anak bereaksi berbeda terhadap virus corona dan flu biasa. Ini, Iwasaki mengatakan, mungkin lebih karena perbedaan tipe respons sitokin yang dihasilkan terhadap setiap virus yang datang.

    Diduga, antibodi-antibodi yang sudah ada yang membuat kondisi orang dewasa memburuk, karena antibodi itu tidak pas untuk virus corona yang baru. "Kadang antibodi yang tidak sesuai seperti itu malah merugikan dan membahayakan," kata Wendy Barclay dari Imperial College London.

    Tapi, hanya karena anak-anak tidak sakit parah bukan berarti mereka tidak berperan dalam penyebaran wabah COVID-19. Iwasaki mengingatkan, sudah ada beberapa indikasi kalau orang dewasa yang terinfeksi tanpa gejala pun bisa menyebarkan virus yang sama. Itu bisa berlaku pula untuk kasus anak-anak. "Sudah tepat tindakan preventif menutup sekolah-sekolah untuk mencegah penyebaran wabah lebih luas," katanya. 

    NEWSCIENTIST


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H