Operasi TMC Flare BPPT di Sorowako Ditunda Karena Corona

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat jenis Piper Cheyenne (PK-TMC) milik Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca, BPPT, beroperasi untuk misi semai hujan dengan teknik flare untuk penanggulangan banjir Jakarta akibat hujan esktrem, Rabu 26 Februari 2020. FOTO/BBTMC-BPPT

    Pesawat jenis Piper Cheyenne (PK-TMC) milik Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca, BPPT, beroperasi untuk misi semai hujan dengan teknik flare untuk penanggulangan banjir Jakarta akibat hujan esktrem, Rabu 26 Februari 2020. FOTO/BBTMC-BPPT

    TEMPO.CO, Sorowako - Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BBTMC BPPT) menunda operasi udara Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan di wilayah tangkapan kaskade Danau Matano, Mahalona, dan Towuti di Sulawesi Selatan.  Ketiga danau tersebut menjadi sumber waduk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang memasok listrik PT Vale Indonesia Tbk (dulu PT Inco).

    “Rencananya, minggu ini mulai dioperasikan TMC flare dengan pesawat BPPT. Pesawat sudah diberangkatkan dari Bandara Budiarto dan tiba di Bandara Sorowako Minggu kemarin. Namun, operasi ditunda terkait prosedur perusahaan untuk mencegah penyebaran Covid-19,” ujar Tri Handoko Seto, Kepala BB-TMC BPPT di Jakarta, Selasa, 17 Maret 2020.. 

    Tim BBTMC BPPT yang berangkat dengan pesawat Cheyenne berjumlah lima orang, terdiri dari pilot, co-pilot  dan kru pesawat. Keseluruhannya saat ini tengah masuk karantina di PT Vale Indonesia selama empat hari, terhitung sejak Senin hingga Kamis (15 -19 Maret). 

    Sementara kegiatan training untuk peroleh kartu izin bekerja di area tersebut dihentikan hingga 30 Maret. “Otomatis tim TMC udara belum dapat beroperasi hingga tanggal tersebut,” kata Seto.

    Kendati demikian, tim TMC BBTMC-BPPT Posko Sorowako masih mengupayakan operasi TMC lewat darat menggunakan wahana Ground-Based Generator (GBG).

    Pengisian ketiga danau tersebut keseluruhan akan dilaksanakan dengan teknik flare. Awalnya, pengerjaan proyek dilaksanakan institusi TMC dari Amerika Serikat sekitar 1980-an.  Namun, BBTMC- BPPT berhasil melakukan alih teknologi sekaligus melanjutkan pengerjaan pengisian waduk hingga kini. 

    “Awalnya, BPPT hanya melaksanakan pendampingan  dengan Weather Modification Inc.-USA (WMI) karena PT Inco (kini PT Vale) telah menandatangani kontrak dengan pihak AS untuk pengisian PLTA. Dari situ lah, mulai belajar jenis bahan semai baru berbentuk flare. Hingga akhirnya kami mampu laksanakan sendiri,” ujar pria yang akrab dipanggil Seto. 

    Modifikasi cuaca menggunakan flare, kata Seto, dapat dengan dua cara, dilakukan dari darat dengan menggunakan wahana Ground-Based Generator (GBG) dan juga menggunakan pesawat terbang. 

    Flare merupakan bahan semai berbentuk padat (dikemas dalam tabung) dan dibawa oleh pesawat dalam rack mounting yang terpasang pada bagian sayap pesawat. Proses pelepasan partikel higroskopisnya ke dalam awan melalui proses pembakaran. “Asap yang keluar dari flare yang terbakar tersebut selanjutnya diarahkan masuk ke dalam awan sehingga umumnya penyemaian dilakukan pada bagian dasar awan,” paparnya.

    Modifikasi cuaca flare juga dapat dilakukan dari darat dengan menggunakan wahana Ground-Based Generator (GBG) yang ditempatkan pada daerah pegunungan atau daerah yang bertopografi tinggi. “Umumnya GBG dilakukan untuk memodifikasi awan-awan orografik,” ujarnya.

    Sutrisno, Kepala Bidang Pelayanan Teknologi BBTMC, mengatakan operasi TMC untuk menambah hujan di Danau Matano, Danau Mahalona dan Danau Towuti ditargetkan untuk kebutuhan tiga PLTA, yaitu PLTA Larona, PLTA Balambano dan PLTA Karebbe sebagai sumber utama listrik dalam pengolahan nikel. “TMC di Sorowako diperkirakan dapat selesai Mei mendatang,” ujarnya.

    Koordinator lapangan BBTMC-BPPT TMC Posko Sorowako Erwin Mulyana mengatakan bahan semai flare lebih mudah untuk penanganannya. Beratnya hanya sekitar 1 kg per tabung, dipasang di sayap pesawat masing-masing 12 buah di kanan dan kiri. "Sehingga, total tiap terbang membawa 24 batang flare atau sekitar 24 kg saja," ujarnya.

    Sementara penyemaian flare dari darat dilakukan dengan memasang GBG (Ground Based Generator) di bukit dengan ketinggian tiang menara capai 50 meter. Bahan semai yang dipasang di puncak menara akan terbawa angin lembah naik ke atas masuk ke dalam awan. “Arus konveksi juga membantu bahan semai naik ke atas menuju awan,” papar Erwin.

    Kepala Bidang Penerapan TMC BBTMC Budi Harsoyo mengatakan ada dua teknik penyemaian flare, yaitu hygroscopic flare yang dipasang kiri dan kanan sayap pesawat. Serta ejectable flare yang dipasang pada bagian bawah perut pesawat yang pelepasannya ke awan dengan cara diinjeksikan. “Flare sudah dijajaki diproduksi sendiri kerja sama dengan PT Pindad. Mudah-mudahan ke depan tidak perlu impor kembali," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.