Tes Massal COVID-19, Ini 6 Rekomendasi Ilmuwan Muda untuk Jokowi

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersiap menyampaikan keterangan pers terkait penangangan virus Corona di Istana Bogor, Jawa Barat, Ahad, 15 Maret 2020. Pernyataan ini disampaikan Jokowi setelah Corona dinyatakan sebagai pandemik global dan salah satu menteri Kabinet Indonesia Maju yakni Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dinyatakan positif Covid-19. ANTARA/Sigid Kurniawan

    Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersiap menyampaikan keterangan pers terkait penangangan virus Corona di Istana Bogor, Jawa Barat, Ahad, 15 Maret 2020. Pernyataan ini disampaikan Jokowi setelah Corona dinyatakan sebagai pandemik global dan salah satu menteri Kabinet Indonesia Maju yakni Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dinyatakan positif Covid-19. ANTARA/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Akademi Ilmuwan Muda Indonesia memberikan enam rekomendasi terkait tes massal virus corona COVID-19 di Indonesia. Tes massal tersebut merupakan perintah Presiden Joko Widodo atau Jokowi karena semakin meningkatnya jumlah pasien positif infeksi virus itu.

    Sekretaris jenderal akademi itu, Berry Juliandi, menerangkan rekomendasi yang pertama adalah tes COVID-19 dengan Real Time-Polymerase Chain Reaction. Mereka bahkan meminta cek ulang sampel yang pernah di tes Balitbang Kementerian Kesehatan.

    "Sebaiknya menggunakan automatic extraction RNA dan automatic RT-PCR sehingga waktu bisa dipersingkat," ujar dia melalui pesan WhatsApp, Jumat, 20 Maret 2020.

    Dosen di Departemen Biologi IPB University itu sekaligus menyarankan sebagian sampel disimpan untuk penelitian tracking mutasi virus dan Genome Sequencing (GS) untuk identifikasi urutan genom COVID-29. "GS bukan untuk tes rutin tapi untuk penelitian lanjutan," katanya lagi. 

    Rekomendasi kedua, skala pemeriksaan diperluas dengan melibatkan perguruan tinggi dan laboratorium yang ada di Indonesia. Rekomendasi ketiga dari peneliti neuro-science itu adalah rapid test berbasis antibodi yang dapat diukur saat awal infeksi (IgM) dan fase berikutnya (IgG) hanya dapat dilakukan jika sudah ada validitas bahwa tes cepat serum sensitif dan spesifik terhadap gold standar PCR.

    Menurut Berry, teknik rapid test tersebut memang jauh lebih murah tapi hanya efektif dilakukan pada seorang yang telah terinfeksi 3-4 hari. Saat itulah antibodi diperkirakan telah diproduksi tubuh orang itu. "Artinya ketika virus infeksi di hari pertama, RDT (rapid diagnostic test) akan miss," kata dia.

    Namun, dalam kondisi untuk massive screening, Berry menambahkan, RDT ini bisa dilakukan untuk mitigasi risiko. "Kalau pun miss 80 persen, itu masih baik, karena 20 persen untuk ukuran Indonesia itu masih banyak," ujar Berry sambil menambahkan, "Maka RDT ini cocok di bandara atau pelabuhan, mereka bisa di tes sambil nunggu bagasi."

    Rekomendasi keempat, agar pemerintah menetapkan satu laboratorium sebagai pusat konsultasi nasional. Bukan untuk pasien, tapi untuk kepala laboratorium dari daerah konsultasikan masalah. "Pusat laboratorium harus standby untuk trouble shooting. Target tes apersepsi tematik (TAT) adalah 24 jam, dan live reporting."

    Kelima, mengenai logistic view. Menurutnya RDT atau rapid test harus dilakukan di pintu masuk kunjungan seperti bandara dan pelabuhan, qPCR di lembaga-lembaga yang ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan yang mewakili daerah terjangkit dan memiliki fasilitas Bio Safety Level 2, sedang RT-PCR dengan tenaga terdidik. 

    Rekomendasi keenam, terakhir, adalah biobanking. Semua sampel sisa disimpan untuk penelitian epidemiologi dan materi pembuatan alat kesehatan Indonesia. "Ini penting juga supaya tidak impor terus. Saat ini urgen atau normal ya impor," kata Berry.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.