Pemerintah Cemaskan Penularan COVID-19 di Keluarga-keluarga

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas memeriksa suhu tubuh calon penumpang KRL Commuter Line di Stasiun Juanda, Jakarta, Senin, 16 Maret 2020. Pengecekan suhu tubuh tersebut untuk meminimalisir penyebaran COVID-19 melalui transportasi umum. ANTARA

    Petugas memeriksa suhu tubuh calon penumpang KRL Commuter Line di Stasiun Juanda, Jakarta, Senin, 16 Maret 2020. Pengecekan suhu tubuh tersebut untuk meminimalisir penyebaran COVID-19 melalui transportasi umum. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Anak muda berpotensi sebagai pembawa (carrier) mikroorganisme SARS-CoV-2 penyebab penyakit virus corona 2019 atau COVID-19. Mereka bisa saja terinfeksi virus itu namun tetap sehat.  

    Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto mengungkapkan kalau potensi anak muda sebagai pembawa virus di lingkungan dan keluarga masing-masing menjadi persoalan serius. Orang tua atau mereka yang telah berusia lanjut menjadi korban paling rentan.

    “Anak muda ini bukan tidak bisa kena. Bisa kena, namun tanpa gejala. Hal itu yang kemudian menjadi faktor penyebaran COVID-19 secara cepat,” ujar dia dalam keterangan tertulis, Selasa 24 Maret 2020.

    Hingga Selasa siang, 24 Maret 2020, jumlah total kasus positif COVID-19 di Indonesia sebanyak 579. Dari jumlah itu, korban meninggal 49 orang dan yang sudah sembuh 30 orang.

    Itu sebabnya Yuri mengajak siapapun termasuk yang merasa sehat agar benar-benar mematuhi imbauan pemerintah untuk lebih banyak tinggal di rumah dengan isolasi mandiri. "Jangan keluar rumah dan beraktivitas jika benar-benar tidak diperlukan,” katanya.

    Yuri yang juga Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) di Kementerian Kesehatan itu mengatakan penularan COVID-19 didasari kontak dekat akibat cemaran droplet baik melalui batuk atau bersin. Materi cemaran yang berisi SARS-CoV-2 itu, kata dia, dapat berada di udara (airborn) sehingga penting bagi siapa saja untuk menjaga jarak interaksi minimal satu meter.

    "Ini penting untuk menghindari kerumunan dan pertemuan yang menghadirkan banyak orang yang memiliki peluang penularan penyakit ini."

    Cemaran virus itu, kata dia, juga dapat tertinggal di benda mati. Banyak kejadian cemaran di benda mati tertinggal dan tidak sengaja disentuh orang sehat sehingga pindah ke tangan. Kemudian korban yang tangannya tercemar memindahkan virus ke tubuhnya baik melalui area muka atau saluran napas ketika tidak mencuci tangan.

    "Ada sebagian saudara-saudara yang tidak mungkin bekerja dari rumah agar berhati-hati terkait ini. Kemudian yang bekerja dari rumah pastikan jika tidak mendesak keluar rumah, jangan keluar rumah," ujar Yuri.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.