Cerita dari Garda Depan Wabah Corona: Derita Dokter di Balik APD

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis menggunakan alat pelindung diri (APD) di dalam Gedung Pinere, RSUP Persahabatan, Jakarta, Rabu, 4 Maret 2020. Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan telah menerima sepuluh pasien rujukan dalam pengawasan terkait virus corona. ANTARA/Hafidz Mubarak A

    Petugas medis menggunakan alat pelindung diri (APD) di dalam Gedung Pinere, RSUP Persahabatan, Jakarta, Rabu, 4 Maret 2020. Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan telah menerima sepuluh pasien rujukan dalam pengawasan terkait virus corona. ANTARA/Hafidz Mubarak A

    TEMPO.CO, Bandung - Sepucuk surat dokter dari garda terdepan yang ditujukan kepada seluruh masyarakat viral di grup percakapan di telepon genggam belum lama ini. Isinya curahan hati tentang bagaimana mereka harus menderita di balik pakaian pelindung yang sangat tebal dan ketat saat menangani para pasien terinfeksi virus corona COVID-19.

    Disebutkan kalau masker harus pakai 2 lapis, pembungkus sepatu pakai 2 lapis, sarung tangan pakai 5 lapis, di bagian luar kaca mata pelindung masih harus pasang masker pelindung. Setiap 5 jam memakai pakaian pelindung itu tidak bisa makan, minum, atau ke toilet/

    Di ujung suratnya, dokter itu meminta masyarakat bisa bekerja sama, untuk tidak keluar rumah demi mencegah penularan virus lebih luas. "Rumah yang menurut kalian adalah tempat yang membosankan, bagi kami para tenaga medis dan petugas yang berjuang di garda depan melawan wabah, adalah tempat yang kami ingin pulang pun tidak bisa pulang," bunyi surat itu.

    Tempo lalu bertemu dengan Kevin Fachry, seorang dokter residen di Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin Bandung, Selasa 24 Maret 2020. Sejak Januari lalu, Kevin ikut menangani pasien bergejala hingga positif COVID-19 di Instalasi Gawat Darurat dan ruang rawat inap isolasi penyakit infeksi khusus.

    Dia mengakui pakaian tertutup alat pelindung diri yang disebut hazmat, akronim dari hazardous materials, membuat pemakainya tak nyaman. Ketika melepas pakaian dekontaminasi yang kerap disebut baju astronot itu, seluruh pakaian dalam basah oleh keringat. “Iya betul kok, saya pernah pakai sampai satu jam,” katanya. 

    Seorang petugas medis berselfie saat menunjukkan wajahnya yang memar akibat menggunakan masker dan kacamata pelindung setelah menangani pasien virus corona atau Covid-19 di ruang ICU. Twitter.com

    Selain itu pemakaian kacamata pelindung atau goggles selama 15 menit sudah memunculkan bekas di wajah seperti habis memakai pakai kacamata renang. Sedang memakai masker aman, N95, pun memunculkan kerepotan lain ketika bernapas. “Kalau tidak biasa memang awalnya seperti lebih sesak,” ujarnya.

    Menurut Kevin, sesuai protokol keselamatan kerja, masker cukup selapis N95. Tapi penggunaan sarung tangan berlapis dua. Tujuannya, memastikan keamanan saat pengguna melepas baju APD-nya.

    “Jadi sarung tangan yang bekas menyentuh pasien tidak menyentuh baju kita yang bagian dalam,” kata lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran 2014 itu.

    Caranya, sarung tangan lapis kedua atau yang terluar dilepas dulu. Setelah itu sarung tangan di dalamnya atau lapis pertama digunakan untuk melepas semua peralatan. ”Ada prosedurnya urutan mana sarung tangan yang dilepas duluan untuk meminimalisir risiko mengkontaminasi baju sendiri,” kata Kevin.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.