Percepat Vaksin Corona, Singapura Lacak Perubahan Genetik Virus

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi vaksinasi (Pixabay.com)

    Ilustrasi vaksinasi (Pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Tim ilmuwan di Duke-NUS Medical School, Singapura, bekerja sama dengan perusahaan bioteknologi Arcturus Therapeutics mengembangkan cara melacak perubahan genetik virus. Teknik ini diharap bisa mempercepat pengujian vaksin potensial terhadap virus corona COVID-19.

    Ooi Eng Eong, Wakil Direktur Program Penyakit Menular Duke-NUS Medical School, mengatakan efektivitas sebuah vaksin bisa diketahui dari cara gen virus yang ditarget berubah. "Gen apa yang dihidupkan, dan gen apa yang dimatikan," kata dia seperti dikutip dari Reuters, Kamis 26 Maret 2020.

    Penilaian cepat atas perubahan yang dipicu oleh vaksin memungkinkan para ilmuwan menentukan efektivitas dan efek sampingnya, selain mengandalkan respons dari manusia yang menerimanya. Sayangnya, saat ini, belum ada obat yang disetujui atau vaksin pencegahan yang menargetkan virus corona jenis baru terebut. Sebagian besar pasien hanya menerima perawatan suportif, seperti bantuan pernapasan.

    Dari penemuan hingga perizinan, pengembangan vaksin di masa lalu bisa memakan waktu lebih dari 10 tahun. Tapi Ooi mengatakan dunia sains sekarang dapat menawarkan respons yang jauh lebih cepat. 

    Dia mengungkap para ahli sedang menyiapkan vaksin bisa memakan waktu lebih dari satu tahun. "Kami berencana untuk mulai menguji vaksin pada tikus dalam waktu sekitar satu minggu, dengan uji coba manusia diperkirakan dilakukan pada paruh kedua tahun ini," ujar Ooi menerangkan percepatan yang dilakukan.

    Sebelumnya, para ilmuwan Duke-NUS membantu membiakkan virus pada akhir Januari lalu, beberapa hari setelah Singapura mengkonfirmasi infeksi COVID-19 pertama di negeri itu. Singapura menjadi negara ketiga, di luar Cina, yang membudidayakan virus corona yang sedang menciptakan wabah di dunia tersebut.

    Selain itu Singapura melakukan tes untuk mendeteksi antibodi infeksi virus bahkan pada mereka yang sudah pulih dari infeksi. Hal ini penting karena sebagai upaya pertahanan dan menuai pujian dari global.

    Selain tim di Singapura, perusahaan-perusahaan farmasi dan para peneliti di seluruh dunia berlomba untuk mengembangkan vaksin dan obat untuk penyakit virus corona 2019 ini. Upaya-upaya ini termasuk menguji remdesivir sebagai obat anti virus eksperimental Gilead Sciences Inc, Amerika, dan terapi turunan plasma dari Takeda Pharmaceutical Co. Jepang.

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.