Jakarta Masih Ramai, Angka Kematian COVID-19 Indonesia Melesat

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pejalan kaki menggunakan masker di tengah pandemi virus corona melintas di trotoar kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu, 18 Maret 2020. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Pejalan kaki menggunakan masker di tengah pandemi virus corona melintas di trotoar kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu, 18 Maret 2020. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam mengungkap laju kasus kematian karena COVID-19 di tanah air yang terus melesat. Dia membandingkan dengan beberapa negara tetangga yang sudah lebih dulu terpapar namun kalah banyak jumlah kasusnya dengan Indonesia. 

    Menurut Ari, Indonesia bisa menyalip dan angka kasusnya masih terus bertambah karena rendahnya kepedulian warganya untuk berusaha mengendalikan penularan infeksi. Jakarta sebagai episentrum COVID-19 di Indonesia disebutnya masih ramai oleh aktivitas di luar rumah.

    “Saya di persimpangan tadi masih banyak orang, Jakarta itu masih ramai,” ujar dia dalam live streaming di akun YouTube Medicine UI, Jumat 27 Maret 2020.

    Masyarakat masih ke luar rumah, Ari mnerangkan, meningkatkan jumlah kasus pasien yang tertular dan membuat beban pekerjaan di rumah sakit dan dokter bertambah berat. “Akhirnya ketika ada kasus yang perlu penanganan khusus, rumah sakit penuh, yang akhirnya tidak bisa dimanage dengan baik, ini yang mesti diperhatikan,” kata dokter spesialis penyakit dalam itu.

    Per Jumat sore ini, wabah penyakit virus corona 2019 atau COVID-19 sudah mengakibatkan 78 orang meninggal dari total 893 kasus positif infeksi di Indonesia. Yang sembuh kembali baru 35 orang.

    Di Singapura yang lebih dulu diketahui terpapar wabah yang sama, kasus terinfeksi sebanyak 683 orang, dengan korban meninggal 2 orang dan telah sembuh kembali 172 orang. Di Malaysia, kasus yang terkonfirmasi 2.031 orang, dengan jumlah korban meninggal 24 orang dan sembuh 215 orang.

    Petugas memeriksa suhu tubuh calon penumpang KRL Commuter Line di Stasiun Juanda, Jakarta, Senin, 16 Maret 2020. Pengecekan suhu tubuh tersebut untuk meminimalisir penyebaran COVID-19 melalui transportasi umum. ANTARA

    “Oleh karena itu diingatkan lagi, kita semua kerja sama, orang-orang tua itu di rumah sajalah yang umur 60 tahun ke atas,” kata Ari. Dia menerangkan, orang lanjut usia beresiko apa lagi yang punya penyakit penyerta. "Ada kencing manis, stroke, jantung, tolong ini ditekankan,” kata Ari.

    Lulusan Ilmu Biomedik FKUI itu juga mengatakan, Gugus Tugas Penanganan COVID-19 sudah menyediakan ventilator-ventilator untuk merawat pasien positif virus corona. Tapi, Ari berujar, jika ventilator itu penuh akhirnya membuat pasien tidak ditangani dengan baik.

    Guru besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo itu juga berharap agar semua kapasitas dari fasilitas kesehatan terus diperbaiki. Dengan adanya rumah sakit darurat di Wisma Atlet bisa menampung khususnya bagi pasien COVID-19 yang ringan.

    “Tapi sekali lagi ketika masyarakat masih ada di luar dan semakin banyak yang tertular, yang kita sediakan ini tidak akan cukup," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.