Kisah Keluarga Fusco di Amerika yang Dikoyak COVID-19

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perawat Tina Nguyen, melakukan swab test pada warga yanh berada dalam mobil saat tes virus corona atau Covid-19 di Chinatown-Internatiomnal di  Seattle, Washington, 26 Maret 2020. Amerika Serika kini memiliki kasus positif virus corona terkonfirmasi tertinggi di dunia melebihi China dan Italia. REUTERS/Lindsey Wasson

    Perawat Tina Nguyen, melakukan swab test pada warga yanh berada dalam mobil saat tes virus corona atau Covid-19 di Chinatown-Internatiomnal di Seattle, Washington, 26 Maret 2020. Amerika Serika kini memiliki kasus positif virus corona terkonfirmasi tertinggi di dunia melebihi China dan Italia. REUTERS/Lindsey Wasson

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebanyak dua lagi anggota keluarga Fusco di New Jersey, Amerika Serikat, terkonfirmasi positif COVID-19. Sebelumnya, sebanyak empat anggota keluarga itu telah meninggal berselang hitungan hari satu sama lain.  

    Dua terbaru yang dinyatakan positif COVID-19 tersebut adalah Elizabeth Fusco, bungsu dari 11 bersaudara dalam keluarga Fusco, dan putrinya. Sedang empat orang yang meninggal adalah ibu dan tiga saudara Elizabeth. Sedang delapan anggota lainnya juga dikabarkan jatuh sakit.

    Hanya satu hari setelah dia mengetahui hasil tesnya, Elizabeth Fusco mengatakan kepada The Post Saturday bahwa dia masih memasak makan malam untuk keluarganya. "Aku punya keluarga yang harus diberi makan," kata dia kepada New York Post, 21 Maret 2020.

    Dia mengaku meneladani ibunya saat mengalami masa-masa sulit yang memilih memasak untuk keluarga. “Saya sedih karena ingat ibu dan saudara saya saat sedang memasak. Tapi di dunia ini tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok hari," katanya. 

    Elizabeth Fusco mengaku kalau dia dan putrinya tidak menunjukkan gejala COVID-19 sebelum dinyatakan positif terinfeksi pada pekan lalu. Namun kini dia menyebut keduanya telah berinisiatif mengisolasi diri. Secara khusus, Elizabeth menetapkan karantina kepada putrinya yang memiliki masalah kesehatan bawaan meskipun tidak serius.

    "Dia sudah bersih,” ujar Elizabeth Fusco. "Kami hanya memilih untuk membuatnya dikarantina demi keselamatannya sendiri."

    Sebelumnya, pada Kamis 19 Maret 2020, Elizabeth Fusco menggambarkan kepada CNN mengenai almarhum ibu dan saudara kandungnya. “(Mereka) akar kehidupan kami. Mereka adalah inti keluarga kami sejak ayah kami pergi."

    Dia mengisahkan, kabar duka datang dalam hitungan hari di antara ibu dan tiga saudaranya itu. "Ketika kami mulai berduka, telepon berdering dan ada orang lain pergi, diambil dari kami selamanya.”

    Virus corona COVID-19 pertama-tama merenggut nyawa Rita Fusco-Jackson (55 tahun). Guru agama ini meningal pada 13 Maret. Lalu, putra tertua Carmine Fuscio (55 tahun) meninggal beberapa jam saja sebelum kematian sang ibu, Grace Fusco (73 tahun) pada 18 Maret.

    Grace sudah dirawat dan meninggal tanpa mengetahui kalau dua anaknya sudah mendahuluinya menjadi korban fatal wabah virus penyebab pneumonia akut itu. Keesokan harinya, Vincent Fusco (53 tahun) meninggal di rumah sakit yang sama.

    Sementara itu, Amerika Serikat terus mencatat penambahan jumlah kasus infeksi penyakit yang sama. Jumlahnya kini bahkan menjadi yang tertinggi di dunia yakni lebih dari 85.500 kasus positif. Melampaui Cina dan Italia.

    THE POST SATURDAY | NEW YORK POST


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.