Kasus Positif Covid-19 Diprediksi 5 Kali Lipat dari Angka Resmi

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas yang mengenakan APD lengkap mengukur suhu tubuh warga yang akan mengikuti rapid test virus Corona di Puskesmas Pengasinan, Depok, Jawa Barat, 27 Maret 2020. Sebanyak 2.400 alat rapid test disiapkan untuk warga Depok. TEMPO/Nurdiansah

    Petugas yang mengenakan APD lengkap mengukur suhu tubuh warga yang akan mengikuti rapid test virus Corona di Puskesmas Pengasinan, Depok, Jawa Barat, 27 Maret 2020. Sebanyak 2.400 alat rapid test disiapkan untuk warga Depok. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Bandung - Lembaga Riset Telematika Sharing Vision di Bandung memprediksi jumlah kasus positif virus Corona Covid-19 di Indonesia saat ini bisa mencapai lima kali lipat dari angka yang dirilis pemerintah.

    Prediksi itu diperoleh dari hasil simulasi model dinamika penyebaran virus mulai pekan pertama isolasi diri secara nasional pada Senin, 16 Maret 2020.

    Simulasi dilakukan Tim Data Scientist Sharing Vision pimpinan Budi Sulistyo bersama Dimitri Mahayana, dosen dari Kelompok Keahlian Kendali dan Komputer ITB, dengan persamaan diferensi orde 30, nonlinier dengan umpan balik positif yang telah digunakan dalam memodelkan fenomena wabah Corona di Indonesia.

    Menurut Budi, salah satu asumsi dalam simulasi model itu adalah asumsi delay dalam pengumuman kasus terkonfirmasi positif Corona. Delay itu, menurutnya lewat keterangan tertulis, Jumat 27 Maret 2020, diasumsikan sangat moderat yakni selama rata-rata tiga hari.

    “Delay ini adalah jeda waktu sejak saat dilakukannya tes terhadap seseorang yang kemudian dinyatakan positif, hingga konfirmasi resmi pemerintah yang memasukkan orang tersebut ke dalam akumulasi total terjangkit,” ujarnya.

    Semakin panjang delay aktual maka semakin besar gap confirmed case yang diumumkan dengan kondisi aktual. Sekitar 40-50 persen terjangkit aktual ini diduga hanya menampakkan gejala sangat ringan atau bahkan tanpa gejala sehingga sulit dideteksi. Adapun sebagian lainnya yang terjangkit telah masuk daftar orang dalam pemantauan maupun pasien dalam pengawasan.

    Dari angka yang diumumkan pemerintah pada 22 Maret 2020 sebanyak 514 kasus positif COVID-19 diprediksi kasus aktualnya sebanyak 2.279 kasus. Pada 23 Maret dari 579 yang dinyatakan terkonfirmasi kondisi aktualnya diprekdiksi 2.706 orang positif. Hingga 25 Maret diprediksi 3.799 aktual dari angka 790 kasus positif yang disebutkan pemerintah.

    Selain itu, menurut tim riset, deteksi terjangkit positif yang berlanjut isolasi diasumsikan hanya dapat menjaring 40 persen terjangkit setelah fase inkubasi. Fase pertama, yakni 7 hari pertama. “Ini karena dalam masa inkubasi peluang keberhasilan deteksi sangat rendah terhadap seseorang yang aktualnya telah terjangkit,” kata Budi.

    Beberapa asumsi itu ditentukan untuk menentukan parameter sistem sehingga keluaran simulasi bisa selaras dengan data global. Menurutnya, data dunia ada yang menunjukkan kenaikan kasus positif dengan kelipatan 1,23 kali hanya dalam dalam dua hari, yaitu 274.696 kasus positif per 20 Maret menjadi 336.934 kasus positif per 22 Maret.

    Asumsi lain pemodelan yang digunakan antara lain penambahan jumlah terjangkit virus Corona secara alamiah akan mengikuti deret geometri. Akumulasi jumlah terjangkit di suatu hari adalah kelipatan dari jumlah terjangkit di hari sebelumnya. Kemudian asumsi seseorang yang terjangkit tidak selamanya menularkan virus, dia akan menjadi vektor penularan hanya dalam rentang waktu tertentu yaitu selama dia terinfeksi virus.

    ANWAR SISWADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.