Bilik Disinfektan Bahayakan Kesehatan? Ini Kata Ahli Biokimia

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menparekraf Wishnutama melintasi disinfektan chamber yang nantinya jadi prosedur bagi tenaga medis dan gugus tugas pencegahan Covid-19 yang menginap di hotel. Dok. Kemenparekraf

    Menparekraf Wishnutama melintasi disinfektan chamber yang nantinya jadi prosedur bagi tenaga medis dan gugus tugas pencegahan Covid-19 yang menginap di hotel. Dok. Kemenparekraf

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah artikel viral di media sosial mengatakan penggunaan bilik disinfeksi malah membahayakan kesehatan. Artikel itu menyoroti maraknya pendirian bilik-bilik disinfeksi yang menyemprotkan disinfektan ke tubuh mereka yang berada di dalamnya untuk perlindungan di masa wabah virus corona COVID-19 sekarang ini.

    Artikel itu diketahui berasal dari sebuah situs media kesehatan health.grid.id. Satu contoh bilik disinfeksi yang diterangkannya adalah yang dibuat Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. “Menurut WHO, bilik yang berisikan cairan desinfektan seperti alkohol, clorin, H2O2 justru membahayakan manusia hingga dua tahun ke depan (karsinogenik), dan sampai saat ini tidak ada cairan apapun yg direkomendasikan,” tulis artikel itu.

    Chandra Risdian, peneliti biokimia dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membenarkan bahwa tidak ada rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk penggunaan disinfektan ke tubuh manusia. Dalam literatur tentang bahan-bahan aktif dan produk rumah tangga untuk disinfeksi virus corona penyebab COVID-19 yang dibuatnya--dan kemudian dibagikan LIPI--pun, Chandra telah memperingatkan agar tidak ada kontak dengan mata dan kulit.

    Warga mencoba fasilitas Disinfection Chamber (bilik disinfektan) yang dipasang Dompet Dhuafa di kawasan Blok M, Jakarta, Selasa, 24 Maret 2020. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    “Disinfektan yang saya tulis bukan untuk digunakan langsung ke manusia tapi ke benda,” katanya saat dihubungi, Minggu 29 Maret 2020. Dalam literatur dia menyertakan beberapa bahan aktif disinfektan, di antaranya sodium hipoklorit seperti yang ada di produk pembersih Bayclin, hidrogen peroksida, dan sejumlah turunan alkohol yang biasa ada di produk seperti Dettol dan Wipol.

    Chandra meminta masyarakat pengguna bahan-bahan disinfektan agar selalu memeriksa label dan instruksi penggunaan yang disertakan. Waspadai potensi bahaya dari setiap produk meski pada kadar tertentu ada zat yang aman untuk kulit. Dia mencontohkan sodium hipoklorit yang bisa sampai 0,05% untuk batas minimal kadar efektif. Tapi alkohol (ethanol) batas minimalnya 62%.

    Dia memberi ilustrasi penggunaan alkohol 60 persen akan memberi rasa perih jika kena mata. Sedang pencampuran antar bahan aktif tersebut, menurut Chandra, sangat mungkin menciptakan efek karsinogenik.

    “Pesan saya untuk masyarakat yang membuat bilik-bilik desinfektan: tanyakan ke penyedia, apa isi disinfektan yang digunakan, berapa kadarnya, dan tunjukkan bukti kalau itu aman buat kulit. Kalau tidak, jangan lakukan,” kata peneliti yang masih berada di Jerman untuk kepentingan risetnya itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.