LIPI Patenkan Disinfektan Ramah bagi Kulit, Harga Mulai Rp 5 Juta

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga berada di dalam bilik disinfektan di kawasan Blok M, Jakarta, Ahad, 29 Maret 2020. WHO menganjurkan cuci tangan dengan sabun sebagai cara paling efektif untuk mencegah terinfeksi virus corona. ANTARA/Muhammad Adimaja

    Warga berada di dalam bilik disinfektan di kawasan Blok M, Jakarta, Ahad, 29 Maret 2020. WHO menganjurkan cuci tangan dengan sabun sebagai cara paling efektif untuk mencegah terinfeksi virus corona. ANTARA/Muhammad Adimaja

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memperkenalkan disinfektan buatannya yang diklaim ramah bagi kulit. Disinfektan berbasis ozon itu menjadi alternatif di tengah maraknya langkah mandiri kelompok-kelompok masyarakat membuat bilik sterilisasi, melindungi diri dari pandemi COVID-19.

    Klaim ramah bagi kulit juga bisa menjadi solusi setelah muncul kekhawatiran bahan aktif disinfektan berbahaya bagi kesehatan penggunanya. "Kalau yang kami pakai kan menggunakan uap air dan ozon, bahan bakunya oksigen, setelah dipakai bisa kembali menjadi oksigen,” ujar Kepala Balai Instrumentasi LIPI, Anto Tri Sugiarto, Senin, 30 Maret 2020.

    Anto terlibat dalam tim yang mengembangkan disinfektan berbasis ozon itu bekerja sama dengan tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Menurutnya, disinfektan yang sudah mereka perkenalkan dalam video conference dengan Menristek pada Kamis pekan lalu itu lebih aman bila disemprot ke tubuh dalam sebuah bilik sterilisasi.

    Anto menambahkan disinfektan berbasis ozon menggunakan dan memproduksi apa yang disebutnya nano bubble water. Hasil uji disebutnya  menunjukkan hasil efektif dalam membunuh membunuh atau mensterilisasi bakteri 100 persen serta bisa membunuh virus dalam 30 detik.

    Anto menerangkan bahwa disinfektan itu sudah dipatenkan berupa alat generator. Harga jualnya dibuat tergantung besarannya, mulai dari Rp 5 juta sampai Rp 10 juta. "Alat generator ini nanti masyarakat tidak butuh lagi ngisi karena sudah mengandung disinfektan, cukup isi ulang airnya saja,” kanya menuturkan.

    Secara terpisah, Ketua Tim Pakar Gugus Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito menerangkan, penggunaan bilik untuk menyemprotkan disinfektan langsung ke tubuh orang tidak direkomendasikan. “Karena berbahaya bagi kulit, mulut, dan mata. Dapat menimbulkan iritasi," kata Wiku dalam keterangan tertulis yang dibagikannya, Senin 30 Maret 2020.

    Menparekraf Wishnutama melintasi disinfektan chamber yang nantinya jadi prosedur bagi tenaga medis dan gugus tugas pencegahan Covid-19 yang menginap di hotel. Dok. Kemenparekraf

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dia menambahkan, juga tidak menyarankan penggunaan disinfektan berbahan kimia untuk disemprotkan ke tubuh. WHO hanya menganjurkan disinfektan yang berbahan kimia digunakan untuk menyemprot ruangan atau bagian permukaan benda yang terindikasi sebagai sarang bakteri atau virus.

    Keteranan Wiku senada dengan yang sebelumnya disampaikan Chandra Risdian, peneliti biokimia LIPI. Dalam literatur tentang bahan-bahan aktif dan produk rumah tangga untuk disinfeksi virus corona penyebab COVID-19 yang dibuatnya--dan kemudian dibagikan LIPI--pun, Chandra telah memperingatkan agar tidak ada kontak dengan mata dan kulit.

    “Disinfektan yang saya tulis bukan untuk digunakan langsung ke manusia tapi ke benda,” katanya saat dihubungi, Minggu 29 Maret 2020. Dalam literatur dia menyertakan beberapa bahan aktif disinfektan, di antaranya sodium hipoklorit seperti yang ada di produk pembersih Bayclin, hidrogen peroksida, dan sejumlah turunan alkohol yang biasa ada di produk seperti Dettol dan Wipol.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.