Studi Temukan Hutan Subur di Kutub Selatan 90 Juta Tahun Lalu

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penguin Adelie hidup secara koloni di berbagai lokasi di Kutub Selatan. Foto: David Merron Photography / Moment / Getty Images

    Penguin Adelie hidup secara koloni di berbagai lokasi di Kutub Selatan. Foto: David Merron Photography / Moment / Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Penelitian terbaru mengungkap Antartika kemungkinan adalah rumah bagi hutan hujan yang subur pada 90 juta tahun lalu. Diterbitkan Rabu, 1 April 2020, penelitian itu menulis ulang asumsi ilmuwan tentang wilayah kutub, dan memicu pertanyaan baru tentang bagaimana iklim Bumi dapat berubah secara dramatis.

    Studi baru yang dilakukan tim ahli geosains dari Alfred Wegener Institute, Helmholtz Centre for Polar and Marine Research, Jerman, ini mengeksplorasi inti sedimen yang diambil dari Laut Amundsen di Antartika Barat. Dari kedalaman, mereka menemukan serbuk sari tanaman, spora, dan bahkan jaringan akar padat.

    "Pewarnaan lapisan sedimen yang tidak biasa dengan cepat menarik perhatian kami, itu jelas berbeda daripada lapisan di atasnya," kata ahli geologi Johann Klages, yang juga penulis utama studi ini, seperti dikutip dari laman Slash Gear, Rabu 1 April 2020.

    Skala waktu yang terlibat cukup signifikan, 90 juta tahun yang lalu itu tepat di tengah periode waktu Kapur, ketika dinosaurus hidup di Bumi. Ini juga dikenal sebagai periode terhangat untuk planet Bumi, tapi yang tidak jelas adalah bagaimana kehangatan itu tercipta.

    Hangatnya Antartika jelas bukan kondisi yang terlihat saat ini, dan menggambarkan sesuatu yang berbeda dari wilayah itu pada periode Cretaceous pertengahan. Para ilmuwan menyimpulkan bahwa pantai Antartika Barat pada masa itu berupa hutan hujan beriklim sedang, yang tumbuh subur dengan suhu 54 derajat Fahrenheit.

    Situasinya sama dengan yang kini masih ada di Pulau Selatan Selandia Baru, misalnya. "Selain itu, analisis pertama menunjukkan bahwa, pada kedalaman 27 hingga 30 meter di bawah dasar laut, kami telah menemukan lapisan yang awalnya terbentuk di darat, bukan di lautan," ujar Klages.

    Pada ekspedisi RV Polarstern, para ahli melakukan pengeboran laut dekat Pine Island Glacier. Ketika dilakukan pemindaian computed tomography (CT) sinar-X, ditemukan campuran akar, diikat melalui tanah liat halus dan lanau. Serbuk sari tanaman vaskular dan spora dari berbagai spesies juga ditemukan.

    Namun, salah satu tantangan untuk menjelaskan temuan itu adalah mencari tahu bagaimana kawasan itu bisa tetap begitu hangat. Simulasi pemodelan menduga dibutuhkan tingkat konsentrasi karbon dioksida yang jauh lebih tinggi di atmosfer untuk membawa iklim ke titik di mana suhu memungkinkan hutan hujan untuk bertahan hidup.

    Pada 2019, nilai puncak kadar CO2 di atmosfer hanya kurang dari 415 ppm. Butuh konsentrasi hingga 1.680 ppm untuk menghasilkan suhu rata-rata Antartika 90 juta tahun yang lalu--seperti yang diduga dari hasil studi.

    Seorang ahli geosains di pusat penelitian MARUM Bremen University, Torsten Bickert, menerangkan peneliti sekarang tahu bahwa ada empat bulan tanpa sinar matahari di masa Cretaceous. Yang masih belum jelas adalah proses apa yang terjadi untuk mengurangi suhu dan membentuk lapisan es kutub.

    "Tetapi karena konsentrasi karbon dioksida sangat tinggi, iklim di sekitar Kutub Selatan bagaimanapun termasuk sedang dan tanpa massa es," kata Bickert yang juga ikut terlibat dalam penelitian.

    SLASH GEAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.