Studi: Pasien Corona dengan Gejala Awal Paling Menular

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Orang-orang berjalan di sebuah jalan kawasan perniagaan di Wuhan, Hubei, Cina tengah, Senin, 30 Maret 2020. Puncak wabah virus corona COVID-19 di Wuhan terjadi pada bulan Februari lalu. (Xinhua/Shen Bohan)

    Orang-orang berjalan di sebuah jalan kawasan perniagaan di Wuhan, Hubei, Cina tengah, Senin, 30 Maret 2020. Puncak wabah virus corona COVID-19 di Wuhan terjadi pada bulan Februari lalu. (Xinhua/Shen Bohan)

    TEMPO.CO, Jakarta - Penelitian terbaru menemukan pasien positif virus corona yang menunjukkan gejala awal atau ringan justru menjadi agen penular terbesar. Studi ini dilakukan terhadap sembilan pasien di Jerman. Pada pasien-pasien itu didapati tingkat infeksi virus sangat tinggi di tenggorokan masing-masing padahal mereka masih menunjukkan gejala awal COVID-19.

    Penelitian yang dipimpin Christian Drosten dan Clemens Wendtner dan hasilnya diterbitkan dalam jurnal Nature itu memberikan sekilas gambaran tentang kenapa penyakit ini menular dengan cepat. Selain memberi panduan bagi rumah sakit-rumah sakit yang kapasitasnya terbatas. 

    "Dalam situasi yang ditandai dengan terbatasnya kapasitas tempat tidur di bangsal-bangsal penyakit menular di rumah sakit, ada tekanan untuk bisa sesegera mungkin memulangkan pasien setelah perawatan," kata kedua peneliti dalam jurnal.

    Mereka menuturkan bahwa banyak pasien yang menunjukkan gejala ringan dapat dengan aman dipulangkan setelah 10 hari atau melewati masa inkubasi virus. Itu artinya, mereka masih bisa menjalani kehidupan sehari-hari padahal mereka memiliki daya tular tertinggi.

    “Selain itu, ada kriteria yang memprediksi bahwa ada sedikit risiko sisa infektivitas berdasarkan kultur sel,” tulis mereka menambahkan. 

    Hasil penelitian menunjukkan penularan virus COVID-19 akan menurun secara signifikan setelah lima hari gejala pada tujuh dari sembilan pasien itu. Tapi, dua lainnya mengembangkan tanda-tanda awal pneumonia dan memiliki tingkat virus yang tinggi 10 atau 11 hari justru setelah jatuh sakit.

    Membandingkan puncak daya tular, para ilmuwan menemukan seorang pasien COVID-19 bisa mengeluarkan 1.000 kali lebih banyak virus daripada mereka yang terinfeksi SARS. Masa puncak daya tular pasien SARS disebutkan sekitar hari ke tujuh hingga sepuluh setelah si pasien pertama kali jatuh sakit.

    Penelitian terbaru ini disadari masih terbatas karena tidak ada kasus parah yang diamati. Sembilan pasien yang diteliti Christian dan Clemens adalah tergolong sakit ringan. Semuanya rata-rata berusia muda sampai setengah baya tanpa riwayat penyakit lain yang signifikan.

    NEW YORK POST | NATURE


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.