Kekecewaan dan Kronologis Amerika Terpuruk di Pandemi COVID-19

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapal rumah sakit Angkatan Laut USNS Comfort melintas di dekat patung Liberty saat memasuki New York Harbor di New York City, AS, 30 Maret 2020. Pemerintah Amerika Serikat tidak hanya mempersiapkan USNS Comfort tetapi juga kepal rumah sakit Angkatan Laut USNS Mercy. REUTERS/Mike Segar

    Kapal rumah sakit Angkatan Laut USNS Comfort melintas di dekat patung Liberty saat memasuki New York Harbor di New York City, AS, 30 Maret 2020. Pemerintah Amerika Serikat tidak hanya mempersiapkan USNS Comfort tetapi juga kepal rumah sakit Angkatan Laut USNS Mercy. REUTERS/Mike Segar

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pemerintahannya menghadapi banyak kritik yang mengatakan kalau mereka tidak merespons cukup cepat terhadap datangnya wabah COVID-19. Dampaknya, hingga artikel ini dibuat virus corona penyebab wabah itu telah menginfeksi 216.722 orang di negara adidaya itu, sebanyak 5.140 di antaranya meninggal.

    Termasuk mereka yang mengkritik adalah Ashish Jha, direktur di Harvard Global Health Institute, Amerika Serikat. Dia mengatakan, andai uji atau pemeriksaan massal terhadap masyarakat serta karantina wilayah-wilayah dilakukan lebih awal, "Kita akan memiliki situasi yang berbeda sekarang."

    Berdasarkan data di Johns Hopkins University, Amerika menempati urutan tertinggi di dunia untuk jumlah kasus infeksi. Sedang angka kematiannya berada di bawah Italia dan Spanyol, di atas Prancis dan Cina.

    Bicara di program televisi CNN, Rabu 1 April 2020, Jha menyatakan mengapresiasi gugus tugas bentukan Gedung Putih untuk penanggulangan COVIDS-19 di Amerika Serikat. Namun dia percaya semua ahli kesehatan masyarakat setuju dengannya tentang situasi yang berbeda itu andai pemeriksaan massal, persiapan rumah sakit-rumah sakit, serta perintah karantina wilayah sudah dilakukan lebih awal.

    Petugas medis menggunakan pakaian pelindung saat akan melakukan tes virus corona atau Covid-19 secara drive thru di Seattle, Washington, 17 Maret 2020. REUTERS/Brian Snyder

    Jha juga menyoroti pengujian massal yang masih juga tidak banyak dilakukan di beberapa negara bagian. Mereka dinilainya sengaja tidak memeriksa warganya karena menganggap tidak punya banyak kasus. 

    "Tapi saya tidak yakin mereka tidak punya banyak kasus," katanya, "Mereka hanya tidak mau memeriksa dan ketika tidak memeriksa, Anda tidak akan menemukan kasus."

    Jha pantas kecewa karena telah sejak sebulan lalu telah mengungkap yang sama. Saat itu dia menanggapi keberhasilan Singapura dan Hong Kong memperlambat penyebaran dan dampak wabah COVID-19 di negara masing-masing.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.