Infeksi Virus Corona, Begini Badai Sitokin Bisa Bikin Fatal

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasien virus Corona dirawat di satu rumah sakit di Teheran, Iran pada 1 Maret 2020. [WASHINGTON TIMES]

    Pasien virus Corona dirawat di satu rumah sakit di Teheran, Iran pada 1 Maret 2020. [WASHINGTON TIMES]

    TEMPO.CO, Jakarta - Pasien terinfeksi virus corona COVID-19 dan bahkan influenza bisa meninggal karena reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh yang disebut badai sitokin.

    Sitokin adalah protein kecil yang dilepaskan oleh banyak sel berbeda di dalam tubuh, termasuk sistem kekebalan tubuh tempat mereka mengkoordinasikan respons terhadap infeksi. Reaksi berlebihan itu akhirnya memicu peradangan. 

    Dikutip dari laman Newscientist, terkadang respons tubuh terhadap infeksi bisa menjadi tak terkendali. Contohnya, ketika SARS-CoV-2, virus di belakang pandemi COVID-19, memasuki paru-paru. Ia memicu respons kekebalan tubuh, menarik sel-sel kekebalan ke wilayah tersebut untuk menyerang virus, yang mengakibatkan peradangan lokal.

    Pada beberapa pasien, tingkat sitokin yang berlebihan atau tidak terkontrol yang kemudian mengaktifkan lebih banyak sel imun, yang menghasilkan hiperinflamasi. Ini pada akhirnya dapat membahayakan atau bahkan membunuh si pasien.

    Nama sitokin berasal dari kata Yunani untuk sel (cyto) dan gerakan (kinos). Badai sitokin adalah komplikasi umum tidak hanya pada COVID-19 dan flu, tapi juga penyakit pernapasan lainnya yang disebabkan oleh virus corona seperti SARS dan MERS. Sitokin juga bisa berhubungan dengan penyakit non-infeksi seperti multiple sclerosis dan pankreatitis.

    Fenomena Badai Sitokin ini menjadi lebih dikenal setelah wabah virus flu burung atau H5N1 pada 2005. Saat itu tingkat kematian yang tinggi dikaitkan dengan respons sitokin yang tidak terkendali.

    Badai sitokin mungkin menjelaskan mengapa beberapa orang memiliki reaksi parah terhadap virus corona sementara yang lain hanya mengalami gejala ringan. Mereka juga bisa menjadi alasan mengapa anak-anak kurang terpengaruh, karena sistem kekebalan tubuh mereka belum berkembang, sehingga menghasilkan tingkat sitokin penggerak peradangan yang lebih rendah.

    NEWSCIENTIST


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.