COVID-19: Sia-sia Berjemur Matahari, Bagaimana dengan Sinar UV?

Reporter

Warga berjemur di bawah sinar matahari di Bekasi, Jawa Barat, Jumat, 3 April 2020. Hal tersebut dilakukan warga untuk memperkuat imunitas tubuh selama wabah virus Corona. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

TEMPO.CO, Jakarta - Badan Kesehatan Dunia atau WHO telah menegaskan, berjemur di bawah sinar matahari tak akan menghindarkan seseorang dari infeksi virus corona COVID-19. Terik matahari maupun suhu udara lebih dari 25 derajat Celsius terbukti tak membantu negara-negara tropis dari pandemi virus itu.

WHO menyatakan itu dalam laman resminya dengan menuliskan: Anda bisa terinfeksi COVID-19 tak peduli seberapa cerah dan panas cuaca. "Untuk perlindungan diri, pastikan Anda cuci tangan bersih sesering mungkin, dan hindari sentuh mata, mulut dan hidung," kata WHO.

Praktik berjemur di bawah sinar matahari pagi menjelang siang tiba-tiba marak di masa pandemi COVID-19. Sebagian dokter merekomendasikan praktik ini dengan menyebut cuaca Indonesia tak ramah bagi patogen termasuk virus corona.

Sedang sebagian ahli membagikan di media sosial tentang spektrum matahari yang menjadi sumber disinfektan alami. Disebutkan kalau spektrum ultraviolet-C dan UV-B dari sinar matahari sangat efektif untuk melumpuhkan dan mematikan virus. UV-C dan UV-B adalah spektrum dengan radiasi energi tertinggi dari sinar matahari.

"Banyak penelitian mengkonfirmasi bahwa virus yang tersebar di udara maupun di permukaan benda bisa dilumpuhkan dan dimatikan dengan sinar matahari alami maupun dengan sinar UV buatan dari lampu," begitu di antaranya bunyi informasi yang dibagikan.

Guru Besar Biokimia dan Biologi Molekuler di Universitas Airlangga, Chaerul Anwar Nidom, memiliki pendapat dengan kesimpulan yang sama dengan pernyataan WHO. Menurut peneliti yang banyak menelaah soal virus flu burung ini, virus mati dalam hitungan jam oleh paparan ultraviolet hanya terjadi di laboratorium.

"Artinya virus yang telanjang dan tidak terbungkus apa-apa...sementara UV di alam tidak bisa langsung, karena virus atau kuman tubuhnya terbungkus material biologi," katanya lewat aplikasi percakapan di telepon genggam kepada Tempo.

Andai hipotesis virus corona mati di bawah sinar matahari karena spektrum UV itu diterima sebagai kebenaran, Nidom mengatakan, "maka kuman-kuman di tropis sudah habis. Tapi mari kita lihat faktanya."

Sedang di laboratorium, dia menambahkan, lampu UV harus dinyalakan ketika ruangan kosong. "Tapi kalau itu ditarik ke suasana alam, perlu mendapat evaluasi lagi," katanya.

Peneliti mikrobiologi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Sugiyono Saputra, juga meragukan hipotesis itu. Dia mengatakan kalau UV bisa membunuh virus dan bakteri tapi, menurutnya, tidak berarti virus corona COVID-19 yang sudah menginfeksi di dalam tubuh bisa diatasi dengan berjemur sinar matahari. "Virus bisa mati maksudnya kalau di lingkungan, di luar tubuh," kata dia. 






Laporan WHO tentang Darurat Kesehatan Ukraina Picu Pertengkaran AS dan Rusia

7 jam lalu

Laporan WHO tentang Darurat Kesehatan Ukraina Picu Pertengkaran AS dan Rusia

Menurut WHO, situasi di Ukraina adalah salah satu dari delapan darurat kesehatan global akut.


4 Februari Hari Kanker Sedunia, Close the Care Gap Menjadi Temanya

1 hari lalu

4 Februari Hari Kanker Sedunia, Close the Care Gap Menjadi Temanya

Hari Kanker Sedunia 4 Februari. Tujuan cegah jutaan kematian akibat kanker setiap tahun melalui peningkatan kesadaran masyarakat tentang kanker.


Para Ahli Khawatir Flu Burung Akan Menginfeksi Antar Manusia, Apa Itu Virus H5N1?

1 hari lalu

Para Ahli Khawatir Flu Burung Akan Menginfeksi Antar Manusia, Apa Itu Virus H5N1?

Kini virus H5N1 atau flu burung tidak hanya mematikan unggas, tetapi juga mulai menginfeksi hewan mamalia. Simak penjelasan lebih lanjut seputar virus H5N1 ini.


Para Ahli Khawatir Flu Burung Akan Menular ke Manusia Setelah Mulai Menginfeksi Hewan Mamalia

1 hari lalu

Para Ahli Khawatir Flu Burung Akan Menular ke Manusia Setelah Mulai Menginfeksi Hewan Mamalia

Kasus virus flu burung yang menginfeksi hewan mamalia di Inggris dan Spanyol membuat para ahli khawatir selanjutnya bisa menular ke manusia.


Wisma Atlet Disebut Jadi Tempat Kuntilanak, Pengamat Tata Kota: Jangan Diubah Jadi Rusun

1 hari lalu

Wisma Atlet Disebut Jadi Tempat Kuntilanak, Pengamat Tata Kota: Jangan Diubah Jadi Rusun

Pengamat tata kota Nirwono Joga menyatakan Wisma Atlet Kemayoran dibangun untuk kepentingan event olahraga internasional. Bisa untuk olimpiade.


Heru Budi Manut Pemerintah Pusat Soal Nasib Wisma Atlet Biar Tak Jadi Sarang Kuntilanak

2 hari lalu

Heru Budi Manut Pemerintah Pusat Soal Nasib Wisma Atlet Biar Tak Jadi Sarang Kuntilanak

Heru Budi mengatakan pengelolaan Wisma Atlet jadi kewenangan Pusat. DPRD DKI minta jangan dibiarkan kosong agar tak banyak kuntilanak.


Polusi Udara Bangkok Memburuk, Warga Diminta Berdiam di Rumah

2 hari lalu

Polusi Udara Bangkok Memburuk, Warga Diminta Berdiam di Rumah

Konsentrasi partikel kecil dan berbahaya di udara, atau PM2.5, di Bangkok mencapai 14 kali lipat dari tingkat yang direkomendasikan WHO


Menkes Beri Penghargaan Kontribusi Penanganan Covid-19 kepada AMSI

3 hari lalu

Menkes Beri Penghargaan Kontribusi Penanganan Covid-19 kepada AMSI

AMSI dinilai telah memberikan kontribusi penting khususnya dalam penyebaran informasi tentang Covid-19 dan pencegahan hoaks selama pandemi.


Jokowi Cerita Kebingungannya di Awal Pandemi Covid-19 hingga Tolak Lockdown

4 hari lalu

Jokowi Cerita Kebingungannya di Awal Pandemi Covid-19 hingga Tolak Lockdown

Jokowi menyebut akibat kegagapan menangani pandemi, terjadi turbulensi ekonomi dan membuat pertumbuhan ekonomi jatuh.


Jepang Akan Anggap Covid-19 Sebagai Flu Biasa Musim Semi Ini, Apa Dampaknya?

4 hari lalu

Jepang Akan Anggap Covid-19 Sebagai Flu Biasa Musim Semi Ini, Apa Dampaknya?

Sebelumnya, Jepang bahkan mengumumkan akan mempertimbangkan untuk melonggarkan rekomendasi penggunaan masker.